Pengertian akan Keberagaman: Kampus vs Kantor

Salah satu hal yang cukup mengejutkan dalam transformasi dunia kuliah ke dunia kerja adalah penyadaran bahwa dunia itu jauh lebih luas dan beragam dari apa yang selama ini saya kira. Bukan berarti selama kuliah saya memiliki sudut pandang yang sempit, sama sekali bukan. Hanya saja jenis dunia saya berkuliah dengan dunia tempat saya bekerja merupakan 2 dunia yang cukup berbeda dalam hal keberagaman.

Agustus 2013, saya resmi menyandang gelar sarjana pendidikan. Pada saat itu saya bingung mau kemana saya selanjutnya? Bukan karena saya tak yakin dengan kemampuan diri saya untuk bisa bertahan di dunia kerja, tapi lebih kepada bidang apa yang ingin saya ambil sebagai sebuah pekerjaan. Normalnya, logikanya, biasanya, kata orang sih seharusnya, sarjana pendidikan bekerja sebagai seorang guru. Kebas sudah telinga ini mendengar doktrin itu selama 4 tahun. Memang sih kampus tempat saya berkuliah, fakultas pendidikan USBI, memang bertujuan untuk menciptakan generasi guru baru yang mampu mengajar dengan kemampuan-kemampuan abad-21. Walaupun dalam 1,5 tahun terakhir saya menyelesaikan studi di sana visi tersebut mulai berubah menjadi “menciptakan pendidik”(yang kami percaya bersama bukan hanya guru, tetapi siapa saja yang memiliki semangat berbagi), tetap saja sebagai lulusan pertama kami memiliki tanggung jawab untuk menjadi seorang guru. Tanggung jawab yang diemban demi membuktikan kepada pemerintah bahwa USBI memang mampu mewujudkan visinya, dan tanggung jawab moral sebagai seorang sarjana pendidikan yang memiliki kemampuan dan pengetahuan mengajar mumpuni di kala kualitas pendidikan bangsa tengah diperdebatkan. Tanggung jawab yang pada saat ini, 4 bulan kemudian, saya nafikan.

Sebelum saya berlanjut nyerocos tentang status sarjana pendidikan yang saya miliki namun faktanya saat ini saya malah bekerja di bank bukannya mengajar di sekolah (ceritanya panjang, saya ceritakan lain kali), mari kita kembali ke soal perbedaan keberagaman kuliah dan kerja.

Dengan visi mulia untuk menciptakan generasi guru baru yang berkualitas, Fak. Pend. USBI (dulu SSE) tidak tanggung-tanggung dalam memilih orang-orang yang akan menjadi tumpuan harapan mereka. Dengan iming-iming beasiswa, kampus canggih, pengajar ahli dan kesempatan masa depan cerah, lebih dari 1200 anak muda mendaftar untuk menjadi mahasiswa/i pertama SSE di tahun 2009. Setelah melewati berbagai tes, bahkan sampai 3 hari karantina, terpilihlah 89 anak muda yang diterawang dapat memenuhi visi tersebut. 89 orang ini adalah, tentu saja, anak-anak terpilih dari seluruh Indonesia. Semuanya memiliki kecerdasan di atas rata-rata, karakter yang kuat, kepribadian yang unik dan sebagian besar memiliki mimpi untuk dapat mengubah kesejahteraan keluarga mereka. Ya, sebagian besar dari anak-anak ini berasal dari keluarga pra-sejahtera, termasuk saya.

Seiring berjalannya waktu, SSE membuktikan bahwa mereka memang serius dengan visinya. 89 anak muda ini dipersenjatai dengan berbagai kemampuan yang menyiapkan mereka untuk bersaing di abad-21 yang super global dan canggih. Dari segi akademik, kami dipapari oleh berbagai pengetahuan global terkini, mulai dari teori-teori pendidikan, kemampuan berbahasa Inggris dan IT, trik-trik mendidik, dan sebagainya. Keterampilan menyelesaikan masalah, berpikir kritis, manajemen organisasi, kepemimpinan, public speaking, dan kesempatan bekerja sama dengan institusi-institusi internasionalpun tak lupa diberikan. Berbagai kesempatan konferensi, pelatihan, magang, mengikuti kegiatan sosial dan berorganisasi merupakan hal-hal yang mudah ditemui. Semua hal dilakukan untuk mempersiapkan kami menjadi pejuang-pejuang yang mampu bertahan di pertarungan paling canggih di abad-21.

Akibatnya?

Kampus merupakan sebuah tempat belajar yang sangat ideal. Kompetisi sehat di mana-mana, namun persahabatan tetap nampak di setiap sudut kelas. Semua orang paham bahasa Inggris, semua orang sedikit banyak paham cara berorganisasi, semua orang kelihatan pintar dengan karakternya masing-masing. Semua orang memiliki 1 visi yang sama, yang dilihat dari berbagai sudut pandang berbeda. Semua orang beragam dan mampu menerima keberagaman itu. Pada akhirnya kami menjadi sekelompok orang berkarakter beragam namun berada dalam segaris kualitas yang relatif sama. Bermodalkan semua hal ini, saya pribadi percaya bahwa kami mampu berjuang di dunia kerja. Sayangnya, yah tahulah apa yang biasanya terjadi setelah ada kata ‘sayangnya’…

Sebuah perusahaan tersusun dari berbagai komponen kerja yang berbeda, tentu membutuhkan orang-orang dengan kemampuan yang berbeda. Kemampuan yang berbeda seringkali didapat dari latar belakang dan pola pikir yang berbeda pula. Jadilah sebuah perusahaan terdiri dari ratusan orang dengan ratusan macam kemampuan dan ratusan cara berpikir yang berbeda. Contohnya, tak semua orang bisa berbahasa Inggris. Tak semua orang memiliki visi yang sama. Tak semua orang memiliki hati untuk pendidikan (wajar sih, siapa suruh saya masuk bank?). Tak semua orang dapat memahami dan menghargai perbedaan. Tak semua orang mengerti akan kejamnya sebuah ejekan. Tak semua memiliki kepekaan hati untuk mau mengerti. Tak semua orang tahu dan mau mengerti bagaimana rasanya hidup dengan penuh keterbatasan materi. Tak semua orang diberkahi Tuhan dengan kemauan untuk terus belajar. Semua begitu beragam, begitu berbeda. Ah, saya jadi meracau!

Intinya, kami dipersiapkan untuk dapat bersaing dalam lingkungan yang serba canggih. Bukan canggih dalam teknologi, tetapi lebih canggih dalam pola pikir, keberadaban, kemampuan menerima perbedaan dan pengetahuan. Namun sayangnya, tak semua dari kami pergi ke lingkungan yang seperti itu. Saya sendiri masih harus berkutat dengan isu-isu yang seharusnya sudah selesai lewat perjuangan Mandela, Martin Luther King dan Kartini setiap harinya. Bagaimana bisa menjadi canggih di saat lingkungan kita masih sederhana? Saya tidak mengatakan bahwa kampus saya lebih canggih dari tempat saya berada sekarang. Bukan sama sekali. Hanya saja dunia kampus dulu begitu homogen dalam hal saling pengertian. Kini, semuanya begitu beragam. Tak semua orang berada dalam frekuensi yang sama dengan kita. Seringkali saya, sebagai anak baru yang harus menyesuaikan frekuensi dengan mereka yang sudah lebih dulu datang di sana.

Apakah ini merupakan sebuah keluhan dari saya yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan baru yang terlalu beragam? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Yang jelas saya rindu berada di antara orang-orang yang mau saling mengerti satu sama lain.

Categories: Private but readable | Tags: , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Republik Busway I

Sebagai seorang warga Depok tak berkendaraan pribadi yang berkegiatan di Jakarta selama hampir 4 tahun terakhir, angkutan umum adalah sebuah sahabat yang jauh lebih penting daripada seorang kekasih. Perumpamaan ini muncul bukan karena saya selalu bergonta-ganti angkutan umum tapi tidak pernah berganti (bahkan punya) kekasih, tetapi karena memang angkutan umum itu adalah pusat pembicaraan dalam kehidupan saya sehari-hari. Bayangkan saja, setiap mau keluar rumah yang dipikirkan bukan mau ketemu siapa atau sama siapa berangkatnya, tapi naik apa berangkatnya. Dari situ akan diturunkan variable-variabel lain seperti lewat mana biar lebih sedikit ganti kendaraannya, berapa banyak uang yang harus disiapkan, harus berangkat jam berapa agar tidak terlambat, bawa apa agar tidak bosan di jalan, barang apa yang harus dibawa dengan lengkap agar tidak perlu bolak-balik ganti kendaraan, harus bawa laptop atau tidak mengingat ramainya angkutan yang akan dinaiki, perlu bawa jaket tidak kalau harus naik kendaraan terbuka (missal: ojek), ada yang bisa ditebengin enggak biar hemat ongkos, bawa pecahan uang berapa biar supirnya enggak punya kesempatan korupsi dan hal-hal perintilan lain yang rasanya enggak perlu diceritakan di sini. Kedengarannya lebay ya? Kalau kamu sudah terbiasa kemana-mana naik kendaraan umum, kamu juga akan begitu. Terlalu banyak faktor tak terduga di jalan yang bisa merenggut kesempurnaan rencana satu hari kita. Makanya kita perlu mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, seadil-adilnya, sehormat-hormatnya #salahfokus #bumimanusia.

Diantara banyaknya kendaraan umum yang tersedia di jalanan ibukota Jakarta, andalan saya adalah bus Trans Jakarta. Orang-orang sih lebih mengenal bus itu dengan nama Busway. Aneh banget! Yah, padahal kan itu nama jalanannya, bukan busnya. Tapi ya sudahlah, bukan itu juga yang ingin diceritakan dalam tulisan ini. Nah, kamu pernah enggak naik Busway (tuh kan ikutan salah nyebut)? Seperti kendaraan umum kebanyakan, di dalam Busway (Bus Trans Jakarta, apapun lah) -pun terdapat berbagai jenis manusia yang memanfaatkannya. Iya, saya cuma akan membahas manusia, bukan makhluk-makhluk lainnya. That will be another weird story to tell….

Kalau kamu memperhatikan, manusia-manusia (eh gimana kalau diganti jadi orang-orang? Kayaknya enggak nyante gimana gitu) di dalam Busway (udah enggak usah protes) itu dapat menggambarkan jenis-jenis orang yang hidup di dunia ini loh.  Berdasarkan studi empiris yang saya lakukan, jenis orang-orang itu dapat dikelompokan ke dalam 3 kategori, yaitu berdasarkan rutinitas, agresifitas dan posisi tubuh. Yu kita bahas satu per satu.

1. Berdasarkan Rutinitas

a. The commuters

Mereka (termasuk saya sih) adalah orang-orang yang sehari-harinya berkegiatan di sekitaran Jakarta, jadi sudah biasa naik Busway. Biasanya mereka adalah para pekerja dan pelajar yang tak jarang merupakan penduduk non-Jakarta. Mereka naik Busway dengan harapan bisa terhindar dari macet, panas dan ‘liarnya’ beberapa penumpang dan supir metromini/kopaja/ bus kota lainnya . Namun, harapan itu hanya sekedar harapan palsu belaka. Saking seringnya mereka terpapar oleh kekecewaan yang dibawa oleh Busway, tak sedikit dari mereka yang telah kehilangan idealisme dirinya. Yang tadinya berprinsip ‘utamakan orang banyak dari diri sendiri’ bisa berubah jadi ‘yang penting gue dapat duduk, capek tau!’. Tak sedikit pula yang tadinya pengikut setia bebek dalam hal antri jadi kehilangan kepercayaan kepada si bebek sehingga lebih memilih cara ikan salmon dalam musim kawin yang sedang berenang menaiki air terjun untuk naik ke dalam (naik sih harusnya ke atas ya, ko ya ke dalam?) Busway: berjubelan tak kenal kawan atau lawan, yang penting naik!

Orang-orang ini menggambarkan orang-orang yang sudah lelah, sudah muak dengan sebuah keburukan. Keburukan itu hadir setiap hari sehingga melebur menjadi sebuah bagian hidup yang pada akhirnya membentuk persepsi mereka tentang sebuah kenormalan. Kenormalan yang tak perlu ditanggapi secara berlebihan. Misalnya sudah biasa kalau di dalam Busway orang duduk sambil pura-pura tidur biar tempat duduknya enggak diambil paksa oleh petugas untuk diberikan kepada orang lain yang terlihat lebih membutuhkan. Ini kan contoh dari sebuah kebohongan, kepura-puraan yang menjadi sebuah kebiasaan. Sebenarnya salah, tapi kalau tidak begitu masa setiap hari harus berdiri di Busway? Bisa tepar nanti. Idealisme mereka (mungkin sekali juga saya) tergerus oleh keburukan sistem yang memaksa mereka untuk juga jadi buruk. Kalau mereka tidak beradaptasi, mereka bisa tidak selamat. Bukankah itu teori dasar sebuah evolusi: beradaptasi? Apakah mereka salah? Ya enggak bisa serta-merta disalahakan juga. Mereka punya kebutuhan dasar untuk bertahan, sama kayak kita semua. Banyak orang yang mencap mereka tak punya hati atau munafik, tapi melakukan hal serupa saat mereka ada di posisi yang sama. Jadi, kesimpulannya adalah berikanlah kesempatan pada para commuters untuk duduk di dalam Busway, hahaha #salahfokus.

b. Occasional based pasangers

Orang-orang yang termasuk dalam kategori ini adalah mereka yang jarang naik Busway. Palingan hanya naik kalau ada keperluan saja, bukan karena kebutuhan harian. Biasanya mereka tidak hapal jalur koridor sehingga sering tanya-tanya sama petugas dan penumpang lainnya. Tak jarang ketidaktahuan mereka membuat heboh orang-orang satu Busway karena mereka salah turun halte, ga tahan kesesakaan di Busway sehingga marah-marah ga jelas dan ngajak ngobrol semua penumpang terdekat agar bisa membunuh waktu di Busway. Satu hal yang saya enggak mengerti dari mereka adalah kenapa mereka lebih senang bertanya daripada membaca? Kalau mereka bertanya harus turun di halte mana kalau mau ke suatu tempat sih saya masih bisa mengerti. Tapi, kalau mereka bertanya apakah bus dalam koridor tertentu melewati halte tertentu, saya sangat merasa aneh. Kan sudah ada itu penjelasannya yang digambar secara apik dan mahal di peta jalur Busway yang terpasang di setiap atas pintu halte. Kenapa juga mereka ga cari informasi dulu di web/ twitter Trans Jakarta tentang koridor-koridor yang tersedia? Kenapa harus langsung bertanya? Kenapa enggak berusaha mencari tahu sendiri dahulu? Kenapa juga saya harus mempermasalahkan tabiat mereka? KENAPA?

Buat saya tabiat ini menggambarkan sifat orang-orang itu (kalau tidak boleh mengeneralisir ke ‘orang Indonesia’) yang malas baca, enggak mau repot dan sangat interaktif. Malas baca, yaelah masih perlu dibahas nih? Segala bentuk informasi yang tersedia untuk kita akses kebanyakan dalam bentuk teks, baik itu tulisan maupun gejala yang sama-sama perlu kita baca. Kalau kita malas baca, bagaimana kita bisa mengakses informasi tersebut? Minta dibacain orang dengan cara bertanya? Kalau kita lagi sendirian mau minta dibacain sama siapa? Kalau kita dikasih nikmat untuk bisa membaca, kenapa harus malas membaca? Dalam hidup ini saya sering banget bertemu dengan orang-orang yang hobinya learn the hard way. Mereka lebih senang melakukan kesalahan secara langsung untuk bisa belajar daripada membaca petunjuk yang bisa menyelamatkan mereka dari kesalahan itu. Macam orang yang enggak pernah dengar (atau baca) pepatah lebih baik mencegah daripada mengobati saja. Sudah malas baca, enggak repot lagi. Padahal kan apa repotnya sih tinggal baca? Mungkin mereka merasa repot kalau harus memproses informasi yang mereka dapat dari hasil membaca di dalam otak mereka kali ya. Takut otaknya enggak kuat gitu. Atau, mereka hanya suka berbicara. Ingat kan kalau ada multiple intelligences? Siapa tahu para penanya ini memang termasuk orang verbal, bukan visual. Yah tapi tetap saja lebih mandiri kalau kita bisa mencoba membantu diri kita sendiri tanpa bantuan orang lain bukan?

Selanjutnya mari kita membahas tentang jenis orang di Busway berdasarkan ketegori agresifitas, tapi bukan sekarang. Saat ini waktu sudah menunjukan hampir pukul 10 malam, sudah tak kuat mata saya. Pembahasan selanjutnya akan ditulis dalam postingan yang lain ya. Untuk saat ini dapat disimpulkan bahwa Busway memiliki kekuatan untuk mengubah tabiat seseorang dan melatihnya menjadi seorang pembicara (paling tidak penanya) yang baik. Hal ini dapat menjadi positif maupun negatif tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Kalau kamu enggak percaya dengan apa yang saya ceritakan di atas, jangan langsung menuduh saya pembohong. Coba buktikan sendiri dengan paling tidak naik Busway setiap pagi di hari kerja selama 1 bulan penuh. Kalau kamu sudah mencobanya, silahkan bantah apa yang mau kamu bantah, dengan bukti tentunya.

All in all, tulisan gue (kenapa enggak saya lagi?) aneh ya? Udah lama BANGET enggak ng-blog. Maklum, waktu gue terpatrikan pada skripsi dan kerjaan di dunia media sosial. Sama-sama nulis juga sih, tapi agak beda metodenya. Kapan-kapan gue bahas deh. See you!

Hit me at Twitter @Firziebcr

Categories: Private but readable | Tags: , , , | 2 Komentar

Kisah 17 Januari: Sebuah Pelukan Hujan

Hujan!

Banyak orang yang tidak suka dengan hujan, apalagi kalau orang-orang itu berkegiatan di kota Jakarta. “Hujan tuh bikin banjir, bikin macet di mana-mana!”, sebuah ujaran yang tak asing di telinga penduduk kota metropolitan ini di saat musim hujan menjelang. Tak sedikit pula yang mencintai, bahkan memuja hujan. Kata mereka hujan itu bawa rejeki, memberikan kesuburan pada ladang dan kebun, serta membawa pelangi dan kicauan burung pipit setelahnya (okey, itu lebay!). Gw? Gw sih ga punya perasaan khusus tuh sama si hujan, ga suka, tidak pula membencinya. Ya bersyukur aja kalau dia datang dan biasa aja kalau dia lupa berkunjung. Namun, kini semua itu berubah. 17 Januari telah memuat perasaan gw terhadap hujan berat sebelah.

17 Januari 2013.

Hari dimulai seperti biasa, tidak ada yang istimewa. Awan mendung, udara mengembuskan rasa dingin di tengkuk, serta rasa malas yang terasa menggerogoti hati. Sebuah suasana yang biasa di musim penghujan di kota penyangga Jakarta yang terkenal dengan belimbing dan anjuran makan dengan tangan kanannya (red: Depok). Akan indah cerita ini jika gw memutuskan untuk tetap berada di kota itu. Sayang, bukan itu kenyataan yang terjadi. Gw harus berangkat kuliah ke Jakarta. Yup, kota metropolitan yang kece dengan semua polemik dan keriuhannya di saat musim penghujan. Setelah melakukan rutinitas robot yang biasa, gw pun melangkahkan kaki untuk menuntut ilmu ke kampus tercinta. Untuk mencapai kampus, gw biasanya naik angkot 2 kali sampai pasar rebo dan dilanjutkan dengan bus transjakarta hingga Pancoran. Semua perjalanan itu biasanya menghabiskan 1,5-3 jam waktu gw dalam sehari. Ya, biasanya…

Perjalanan dimulai. Angkot pertama memberikan tiada kesan yang berarti. Biasa, biasa saja. Di angkot kedua, kisah ini mulai sedikit menarik (kalau lo suka kisah ironi penuh penderitaan dan kesedihan, maka ya kisah ini menarik!). Saat gw berada dalam angkot kedua, si hujan mulai turun dari rumahnya yang empuk di awan. Awalnya hanya berupa rintikan-rintikan kecil tak berarti. Namun, dalam waktu yang tak begitu lama, si hujan berubah pikiran. Ia deras dan kejam. Dideru angin dan hawa dingin, ia memeluk setiap makhluk yang ada di jalanan, bahkan mereka yang kurang beruntung tinggal di rumah yang kurang memadai pun tak lupa dipeluknya. Gw? Sayangnya gw termasuk dalam mereka yang kurang beruntung itu. Bedanya, gw bukan sedang ada di dalam rumah, tapi di dalam angkot. Ko bisa? Ya bisalah, angkotnya bocor! Pinggir jendela, atap mobil dan lantai angkot itu meneteskan (dan menyemburkan sih kalau dari lantai) si hujan yang kurang bersahabat. Alhasil tubuh gw pun dipeluk oleh si hujan. Sebuah pelukan yang basah dan dingin menusuk tulang. Untung saja gw sedang mengenakan jaket anti air yang gw dapatkan dari sebuah konferensi salah satu perusahaan komputer terkemuka, jadi ya pelukan itu tidak terlalu menyentuh kulit tubuh gw yang kedinginan. Itu, pelukan pertama.

Sesampainya di Pasar Rebo, gw pun turun menembus hujan bersenjatakan sebuah payung lipat berwarna biru. Kali ini si hujan memeluk gw dengan lebih erat. Untung saja gw terselamatkan oleh kekeringan kolong jembatan, jadi gw bisa sedikit menolak pelukan si hujan. Tiada disangka, sesampainya di halte transjakarta pasa rebo, si hujan memberikan sebuah kejutan yang kurang menyenangkan. Dia masih belum menyerah untuk memeluk gw seutuhnya. Terpampang sebuah pengumuman yang nampaknya ditulis terburu-buru yang menyatakan bahwa koridor 7, 8 dan 9 transjakarta ditutup. Padahal gw harus melalui koridor 7 dan 9 untuk dapat sampai ke kampus. Ya, hebat! Memutar otak yang tengah membeku karena dipeluk hujan, akhirnya gw memutuskan untuk bertualang dengan sahabat lama gw: kopaja 57. Hari ini dia membuktikan bahwa ia memang sebentuk sahabat sejati. Meskipun 1,5 tahun terakhir gw telah meyelingkuhi dia dengan bus transjakarta, hari ini dia kembali menerima gw dengan pintu terbuka dan roda terputar cepat. Bayangkan saja, untuk menempuh jarak dari Pasar Rebo ke Cililitan dia hanya memakan waktu 10 menit. Kalau naik bus transjakarta, 30 menit yang perlu gw luangkan (dengan terpaksa). Sahabat gw, kopaja 57, membawa gw melewati jalan-jalan kenangan yang biasa gw lewati dulu saat masih berkuliah di Tendean. Mulai dari Dewi sartika, hingga kalibata. Hanya saja, kali ini Kalibata tidak menyambut gw dengan senyum cerianya yang dulu. Ia tengah menangis, bersedih dan basah. Bagaimana tidak, semua rumah di sepinggir jalanan itu terbenam banjir hingga setinggi hampir menyentuh atap. Mereka telah menjadi korban pelukan hujan yang ganas. Ah, saat itu gw hampir menangis dibuatnya. Baru kali itu gw melihat banjir yang sebenarnya. Televisi ternyata tidak memberikan gambaran yang nyata tentang betapa mengerikannya banjir itu. Televisi membuat kenyataan itu terasa jauh dan tak akan terjadi kepada gw. Ah, untung saja sisa-sisa pelukan hujan di tubuh gw masih ada, jadi bisa untuk menutupi air lain yang tiba-tiba menggelinang di sudut mata. Itu, pelukan kedua.

Sampailah gw di ujung jalanan Kalibata. Gw pun meninggalkan sahabat lama gw untuk berganti dengan kopaja yang lain, yang mengarah ke kampus gw. Ah, betapa gw berterima kasih terhadap sahabat lama gw yang hebat itu. Di lampu merah gw menunggu. Lagi, si hujan memeluk gw. Lucunya (ga lucu sih, tapi miris), payung yang gw pakai seperti bersekongkol dengan si hujan untuk memeluk gw. Atau, mungkin dia hanya kalah atas serangan hujan itu. Intinya, payung gw BOCOR! Yeaaah, si hujan berhasil memeluk gw lagi. Dingin, basah dan kuyu gw dibuatnya. Entah kenapa penungguan gw tak membuahkan hasil. Kopaja yang mengarah ke kampus gw tak kunjung datang. Dengan terpaksa, di tengah pelukan hujan, gw memutuskan untuk berjalan kaki dari Kalibata hingga kampus. Ya, disinilah si hujan mencumbu gw habis-habisan. Hanya selapis jaket dan seonggok payung bocor yang bisa gw pakai untuk melawan cumbuan dingin si hujan. Beku, dingin, namun gerah dengan emosi. Setelah kurang lebih 15 menit dipermainakan oleh si hujan dengan berbagai peluk, cumbu dan tamparan, akhirnya gw sampai di kampus. Itu pelukan ketiga.

Ya, akhirnya gw sampai! Tak sabar rasanya untuk langsung masuk kelas dan mulai belajar. secara udah dipeuk hujan lama-lama, otak gw butuh dihangatkan dari kebekuannya. Melangkahlah gw ke lantai 2 untuk mencari kelas pengganti yang harus gw hadiri hari ini. Namun, tiba-tiba, si hujan berulah lagi. Dia tidak hanya memeluk gw, tapi juga memeluk banyak mahasiswa dan dosen lain yang berkelana di Jakarta. Ia memanggil banjir dan macet untuk menguatkan pelukannya atas kota Jakarta. Setangguh apapun kampus ini, akhirnya takluk juga pada pelukan hujan. Ya, semua perkuliahan hari ini DILIBURKAN! Waaaaaw. Luar biasa bukan? Bagi sebagian orang mungkin ini adalah berita baik bagai pelangi di cuaca yang muram. Namun, bagi gw berita ini adalah sebuah penyia-nyiaan perjuangan gw melawan pelukan hujan dalam 3 jam kebelakang. Gw mau marah, tapi sama siapa? Sama si hujan? Hujan memang kejam hari ini tapi itu bukan salahnya. Ia turun dengan kejam pasti dengan maksud kebaikan tertentu, yang sampai saat tulisan ini dibuat belum gw pahami. Gw hanya bisa pasrah dan menerima semuanya dengan lapang dada. Hujan berhasil memeluk diri gw, jadwal gw, dan nasib gw hari ini, 17 Januari. Dia memeluk gw bukan dengan kehangatan dan manfaatnya, tapi dengan kedinginan dan kekejamannya. Hari ini gw tidak suka dengan hujan. Apakah hujan akan selalu sekejam ini hingga seterusnya? Gw percaya tidak. Hanya saja, hari ini, hujan tidak berada dalam daftar hal-hal favorit gw.

Itu, sebuah kisah pelukan hujan.

Categories: Private but readable | Tags: , , | Tinggalkan komentar

2012 in review: My One Year Journey (say so)

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

600 people reached the top of Mt. Everest in 2012. This blog got about 3,900 views in 2012. If every person who reached the top of Mt. Everest viewed this blog, it would have taken 7 years to get that many views.

Click here to see the complete report.

Categories: Private but readable | Tinggalkan komentar

Lembar-lembar Pelarian

Aku berlari. Lagi-lagi aku berlari. Sekali lagi aku melarikan diri. Anehnya, ketika aku menoleh ke belakang, tidak ada sesuatu pun yang mengejar. Tidak ada juga yang mencoba menahan. Siapa juga yang peduli dengan sosok seperti aku ini? Ah! Lalu, dari (si)apa aku berlari? Aku pun masih mencoba mencari jawaban dari pertanyaan itu. Yang jelas, aku tidak tahan berdiam saja. Diam membuatku gundah, resah, gelisah. Tak suka aku pada diam. Tak rindu aku pada sepi. Sudah terlalu banyak diam dan sepi yang aku alami. Kali ini aku harus berlari, melarikan diri, sekali lagi. Hanya saja, ke mana aku harus berlari? Dengan tubuh seloyo ini, memangnya aku mampu berlari? Berjalan saja sudah gontai, apalagi berlari?

BUKU! Satu-satunya tempat tujuanku berlari adalah buku. Aku tidak butuh kaki untuk pelarian yang satu ini. Tak peduli segontai apa tubuhku, aku akan selalu bisa berlari ke dalam buku. Ah, betapa aku jatuh cinta terhadap buku. Tapi, bukan buku sembarang buku. Aku hanya cinta buku yang dapat membawaku berlari. Lari dari tugas yang memanggang otak di tempat yang seharusnya mencerdaskan. Lari dari percakapan-percakapan amarah di rumah. Lari dari busuknya udara jalanan kota besar tiada ampun. Lari dari harapan-harapan yang diluluhlantahkan oleh orang-orang tak punya malu. Lari dari sakit karena kasih yang tak berbalas. Lari dari kehidupan abu-abu yang membosankan. Lari dari kenyataan. Lari dari semua hal menjijikan itu ke dalam berbagai petualangan dalam buku-buku novel fiksi-imajinasi. Pengecut memang, tapi yang jelas aku butuh berlari.

Image

Beberapa saat yang lalu terlintas dalam benak gue sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik. “Kenapa ya gue suka baca buku fiksi-imajinasi?” Hampir seketika setelah pertanyaan itu muncul, jawabannya pun jelas terpampang di depan mata: karena gue butuh pelarian! Jika dalam salah satu tulisan blog terdahulu gue pernah mengungkapkan bahwa pelarian gue adalah kesibukan organisasi, maka kali ini gue akan bercerita tentang pelarian gue yang lain. Pelarian yang jauh lebih indah dan adil. Pelarian yang tidak pernah mengecewakan dan selalu membuai rasa. Ya, pelarian itu adalah BUKU.

Buku, terutama kisah fiksi-imajinasi, selalu menyajikan asupan kreatifitas bagi otak gue. Beberapa kisah yang ditulis dengan apik dan epik dapat membuat gue high dan lupa segalanya. Bau buku yang baru dibuka dari bungkusnya adalah adiksi yang tak tertahankan. Suara gemerisik kertas yang dibalik seindah musik bagi telinga yang jemu. Buku membawa gue berlari dari semua permasalahan yang ada. Kadang untuk sejenak, kadang untuk selamanya. Membaca buku bukan sekedar hobi tapi sebuah pelarian. Sebuah pelarian paling indah bagi pribadi yang kesepian. Pertanyaannya, kenapa juga gue butuh pelarian? Karena, hanya buku yang bisa mengerti dan menerima gue apa adanya. Gue punya banyak teman dan beberapa sahabat. Sayangnya, mereka semua manusia. Manusia yang masih memiliki perasaan, ego, keinginan dan nafsu. Dengan itu, mereka tidak bisa menjadi tempat pelarian sejati. Bukan salah mereka tidak bisa mengerti gue. Salah gue yang tidak bisa memahami mereka. Itulah mengapa gue lebih memilih buku: buku tidak mengeluh, meminta ataupun menghina. Buku hanya akan mengerti dan membawa pergi masalah kita jauh-jauh lalu menggantinya dengan kisah-kisah yang mencandukan. Bagaimana mungkin gue tidak jatuh cinta pada buku?

Menyedihkan engga’ sih? Ada manusia yang lebih mencintai buku dari manusia lain. Bagaimana bisa? Kalau kalian mengalami hidup yang gue alami, kalian pasti bisa mengerti alasannya. Kisahnya panjang dan tak akan gue ceritakan di sini. Terlalu banyak orang yang akan tersinggung kalau gue tuliskan. Intinya, tidak ada satupun manusia yang benar-benar bisa mengerti dan gue percaya. Hanya buku yang bisa. Buku yang merupakan kumpulan dari lembar-lembar pelarian. Lagi, gue melarikan diri.

Categories: Private but readable | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Guru ber-S.-bukan-Pd.? Engga’ Keren ah!

Pernah dengar S.Hum. jadi dokter? Pernah kenal S.Sos. yang jadi pengacara? Pernah lihat S.H. jadi insinyur? Sama, saya juga belum pernah. Tapi, berapa banyak S.T., S.Si, S.Psi. dan es es es lainnya yang kita temui hampir setiap hari dalam sekitar 12 tahun masa sekolah kita? Berapa banyak so-called ahli keuangan, bisnis dan pertanian yang bertanggung jawab atas momen-momen tak terlupakan, kebanyakan buruk tapi ada juga yang baik dan luar biasa, di kelas saat kita memakai celana (karena saya pakai celana) merah – biru – abu-abu dalam hidup kita? Berapa banyak calon astronot, pustakawan, sejarawan, dan seniman GAGAL yang akhirnya harus terpaksa berubah haluan jadi seorang GURU di sekolah-sekolah negara kita tercinta Indonesia? Sepanjang pengamatan dan pengalaman saya, jumlah mereka tidak sedikit. Lalu, memangnya kenapa? Bukannya justru keren ketika para guru kita datang dari berbagai latar belakang yang berbeda agar bisa memberi warna tersendiri dalam kelas mereka? Keren kan kalau kita bisa bilang “guru aku dulu 10 tahun kerja di bank loh, tapi semenjak suaminya pindah kerja beliau mengajar di sini” atau “waktu SMP aku diajar matematika sama mantan atlet panahan dong”. Maaf, tapi menurut saya itu tidak keren. Tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap profesi manapun dan atau terhadap guru-guru hebat yang ber-S.-bukan-Pd., saya hanya ingin mengatakan bahwa profesi guru di Indonesia masih dipandang sejentik ujung mata.

Tidak, saya tidak ingin membicarakan (apalagi berdebat) tentang sistem pendidikan di Indonesia dengan segala polemik dan kemelutnya. Saya masih sangat jauh dari pantas untuk berargumen tentang hal itu. Yang ingin saya tekankan di sini adalah bahwa di Indonesia hampir siapa saja bisa menjadi guru, baik dengan senang maupun terpaksa. Untuk menjadi seorang guru sekolah menengah atas misalnya, yang penting kita memiliki ijazah S1, tak peduli huruf apa yang tertera di belakang huruf ‘S.’ itu. Tidak ada ekslusifitas dalam keprofesian guru yang menstandarkan kualifikasi apa saja yang dibutuhkan untuk menjadi seorang guru. Meskipun kita sudah memiliki UU yang mengatur tentang hal itu, tetap saja kebanyakan kepala sekolah akan memilih sarjana bergelar keren lulusan universitas ternama untuk mengajar anak-anak yang dititipkan untuk dididik di sekolah mereka. Bayangkan saja, orang-orang pintar dalam bidangnya, kecuali dalam mendidik, ditugaskan untuk mendidik! Lucunya, tetap saja para orang tua mengeluh tentang betapa tak becusnya sekolah dalam mendidik anak mereka. Ya jelaslah tak becus, wong para gurunya kebanyakan dikuliahkan untuk menjadi pintar, bukan untuk memintarkan orang lain. Para guru-terpaksa ini, kebanyakan, tidak memahami metode-metode mengajar, apalagi mendidik. Yang mereka tahu adalah berbicara tentang ilmu yang mereka (pikir mereka) kuasai dan berharap semoga murid-murid yang mendengarkan dapat memahami ceramah mereka. Delivery matter and content matter are two very distinguish things, guys!

Cobalah kita lirik ke beberapa negara maju di belahan bumi sebelah atas sana (habis kalau di peta, kan tempat-tempat itu ada di bagian atas #hasildidikanyangsalah). Di beberapa negara, untuk menjadi seorang guru bukanlah sebuah perkara yang mudah. Ada yang mensyaratkan sekolah khusus bertahun-tahun bagi seseorang untuk dapat menjadi guru, itu pun masih harus mengalami tahun-tahun percobaan terlebih dahulu. Tak sedikit negara yang menghargai jasa guru dengan materi yang jauh lebih banyak dari dokter atau pengacara. Di negara-negara itu, pendidikannya lebih baik dari di negara kita. Kenapa? Karena, orang-orang yang dapat menjadi guru adalah orang-orang pilihan, bukan mereka yang terbuang dan terpaksa. Guru-guru yang baik ini tahu bagaimana caranya mengajar dan mendidik sehingga dapat menciptakan lingkungan yang kondusif untuk membentuk calon-calon pemimpin masa depan, makanya pendidikan di sana jadi lebih baik.

Duh, jadi guru-guru Indonesia itu jelek? Ya engga’ semuanya lah! Banyak ko guru-guru kita yang memang memiliki passion untuk mendidik, tak peduli apapun latar belakang pendidikan mereka. Sayangnya, orang-orang yang terpaksa jadi guru jumlahnya lebih banyak lagi. Negara pun sudah mencoba mengatasi hal ini dengan mengadakan berbagai program pelatihan dan sertifikasi, namun tetap saja kalau namanya terpaksa ya susah. Mereka nyemplung jadi guru karena memang diberikan jalan oleh negara lewat program PPG. Bahkan, para sarjana pendidikan pun kerap masih harus menempuh program itu untuk menjadi guru. Seakan-akan perkuliahan selama 4 tahun tidak bernilai jika dibandingkan dengan program yang hanya 1 tahun itu. Betapa mudahnya jadi guru kan? Kalau dokter butuh 7 tahun, guru hanya butuh 1 tahun! WOW

Lalu, kita harus bagaimana? Mudah ko, hargailah guru! Hargai guru dengan tidak memperkenankan sembarang orang untuk menjadi guru. Hargai guru dengan memberikan persyaratan yang pantas dan ideal untuk menjadi seorang guru. Hargai guru dengan timbal balik yang setimpal bagi jasa-jasa mereka. Hargai orang-orang yang sudah susah payah sekolah keguruan untuk menjadi seorang guru, jangan berikan penjamin masa depan mereka kepada orang-orang yang terpaksa menjadi guru. Saya yakin dan percaya, ketika guru sudah sejajar dengan dokter, niscaya Indonesia akan jaya sepenuhnya. Hidup guru ber-S.-Pd.!

Categories: Private but readable | 2 Komentar

Karena Mereka, Aku Yakin Jadi Guru

“Lagi-lagi sekolah katolik…!”

Itu adalah kesan pertama saya saat ditugaskan untuk melaksanakan school experience program (SEP) untuk yang keenam kalinya pada semester ini. Bukannya saya anti terhadap kelompok agama tertentu atau tidak suka mengajar di sekolah seperti itu, saya hanya bosan karena selama 2 tahun terakhir saya selalu ditempatkan di sekolah-sekolah sejenis. Sebagai seorang calon guru Matematika, ingin rasanya saya mencoba mempraktikan semua teori yang saya dapat di kampus dalam kelas sungguhan yang heterogen. Sedangkan, setelah 3 kali mengajar di sekolah katolik, saya jadi terbiasa dengan murid-murid yang pada umumnya memiliki latar belakang, budaya, dan intelegensi yang itu-itu saja. Hal ini membuat saya berpikir bahwa SEP kali ini tidak akan spesial, biasa-biasa saja. Ya, itu sebelum saya bertemu dengan mereka.

2 April 2012, saya harus berangkat jauh lebih pagi dari biasanya karena harus menuju sekolah tempat saya mengajar di bilangan Palmerah, Jakarta Barat. Sekolah tujuan saya kali ini adalah SMA Regina Pacis, sebuah sekolah yang sudah tidak asing lagi. Ya, tidak asing karena beberapa waktu yang lalu saya pernah mewakili kampus untuk mengikuti pameran pendidikan tinggi di sekolah tersebut. Setidaknya saya tidak akan nyasar lah. Kedatangan kami disambut baik oleh seluruh pihak di sekolah, terutama oleh para gurunya yang kece dan keren abis! (ceritanya anak gaul :p) Meskipun saya harus menunggu agak lama untuk dapat bertemu dengan guru pamong saya, suasana di sekolah itu tidak membuat saya menjadi tertekan ataupun gelisah. Mungkin karena sudah kali keenam saya melakukan hal ini jadi sudah terbiasa, atau mungkin juga karena saat itu saya tidak tertarik dengan sekolah tersebut yang, sepertinya, sama saja dengan sekolah yang sudah-sudah. Ah, betapa sesatnya paradigma kala itu! Setelah berbagai pertimbangan dan pembagian, saya mendapatkan ‘jatah’ mengajar di kelas X-2. Saat itu yang saya pikirkan hanyalah betapa saya ingin segera menyelesaikan SEP ini dan kembali ke kampus untuk segera menyelesaikan skripsi saya yang sempat tertunda. Lagi, betapa saya akan menyesali pemikiran itu!

Tanpa pernah melakukan observasi, keesokan harinya saya sudah harus terjun mengajar di kelas X-2. Presentasi power point, lesson plan dan soal-soal seputar dimensi tiga sudah siap di tangan. Saya siap untuk mengajar. Anehnya, kali ini saya tidak merasakan kegugupan yang biasa saya rasakan di SEP-SEP sebelumnya. Entah mengapa suasana kelas itu begitu menenangkan. Ditambah lagi guru pamong saya, sebutlah Ibu I, sangat mengayomi dan terbuka terhadap segala ide dan keinginan saya. Saya memulai kelas dengan sedikit berantakan, maklum kendala teknis dengan teknologi di lapangan. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, saya merasakan ada sesuatu yang mengalir dalam diri saya. Awalnya sesuatu ini datang dari perut, seperti ada sensasi ombak yang mendayu dan burung yang berkicau di bawah mentari. Lalu, ia mulai menjalar ke dada seperti angin yang menghembuskan udara musim semi setelah musim dingin yang berkepanjangan, sensasi kelegaan yang penuh harapan. Lanjut ia menjalar ke kepala, wajah, dan otak membuat mereka bekerja terpadu dalam memberikan penampilan terbaik di hadapan 30 orang pemuda-pemudi yang entah mengapa terlihat begitu menenangkan. Tak berapa lama, saya sadar bahwa sesuatu yang saya rasakan itu adalah kebahagiaan. Ya, saya BAHAGIA mengajar mereka. Apakah saya akhirnya menyerah kepada keputusan Tuhan yang menginginkan saya mengajar? Ataukan itu hanya sebuah euforia sesaat karena mendapati sebuah kelas yang sesuai dengan perencanaan? Entahlah, yang jelas saat itu saya hanya merasa BAHAGIA.

Pertemuan pertama, kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Saya tidak bisa menceritakannya secara detail, yang bisa saya katakan adalah saya tidak mau berpisah dengan mereka. 30 orang siswa-siswa kelas X-2 SMA Regina Pacis Jakarta. Bagaimana tidak? Setiap pelajaran, mereka selalu aktif bertanya dan menjawab. Materi pun diserap dengan cepat. Yang lebih penting lagi adalah bagaimana cara mereka memperlakukan saya. Saya benar-benar merasa dihargai sebagai seorang guru. Bukan hanya karena mereka patuh dan penurut, tapi lebih karena kata-kata manis yang keluar dari mulut mereka (yang saya asumsikan adalah kejujuran). Berapa banyak sih guru matematika yang disambut dengan sorakan dan tepuk tangan saat ia masuk kelas? Berapa banyak pelajaran matematika yang ketika selesai justru membuat murid-murid yang diajar merasa sedih kehilangan? Berapa banyak sih murid yang tahu benar bagaimana membahagiakan guru praktek yang baru mereka kenal? Ah, untuk pertanyaan terakhir ini saya tahu jawabannya: 30 orang! Kertas refleksi dan dialog singkat saya dengan mereka penuh dengan kata-kata “kaka ngajar terus aja di sini”, “kaka gantiin Ibu B*** aja”, “You are the best teacher I’ve ever known”, dan sebagainya. Saya merasa jauh lebih dihargai di sini daripada di tempat manapun yang pernah saya kunjungi dalam hidup saya. Saya hanya di sana selama 2 minggu tapi saya berani berkata bahwa kebahagiaan yang saya dapat jauh lebih banyak dari kebahagiaan yang saya dapat selama setahun belakangan. Saya benar-benar diperlakukan sebagai manusia yang keberadaannya dapat bermanfaat bagi orang lain. Itulah mengapa saya, mungkin agak aneh sih, menyayangi mereka.

Ah, saya terlalu banyak berbicara basa-basi. Saya hanya ingin menuliskan tentang mereka, anak-anak yang luar biasa. Pertama ada Tirta yang mengejutkan saya dengan pertanyaannya tentang garis sejajar, yang menurut sumber yang ia baca, akan berpotongan di suatu titik. Bagi saya ini adalah pertanyaan yang luar tidak biasa karena menyiratkan sebuah wawasan yang luas dan ketertarikan mendalam terhadap matematika. Lalu ada Vina yang tidak akan menyerah sampai mendapat penjelasan yang lengkap saat keyakinannya diragukan. Luar biasa! Roby, sang wakil ketua kelas yang awalnya nampak nakal namun memilki jiwa kepemimpinan yang cukup tinggi. Dea, selalu berani mencoba menjawab, apapun resikonya. Juan, Arvin, Eric, Christine, para murid dambaan semua guru. Saya yakin mereka akan menjadi orang hebat suatu saat nanti. Ada Chris, seorang yang jika saya kenal lebih lama, mungkin dapat menjadi sahabat yang baik. Gio, yang meskipun terlihat pemalu namun saya bisa melihat ada bintang yang menuggu untuk bersinar di salam dirinya. Budhy, baru keliatan setelah selesai mengajar sih, a good friend indeed. Wah, pokoknya banyak deh kenangan yang saya miliki bersama mereka! Saya tidak bisa menyebutkan semua satu per satu, sudah malam cuy, ngantuk. Besok harus bagun pagi ada job di kampus, haha. Intinya, saya bangga dan bahagia bisa bertemu mereka ber-30.

Terima kasih X-2!

 

Categories: Private but readable | Tags: , | Tinggalkan komentar

Kami Bukan (Lagi) Orang Kaya

     Sore tadi, Saya dan Ibu saya pergi ke sebuah pusat perbelanjaan, yang bahasa kerennya adalah Mall, di bilangan Jakarta Timur. Sebut sajalah Cibubur Junction #eh. Seperti layaknya masyarakat Indonesia kebanyakan, kami menggunakan transportasi umum (baca: angkot) untuk menuju ke dan pulang dari Mall tersebut. Saya mengenakan celana berbahan denim dan sebuah Polo shirt serta menenteng sebuah tas selempang cokelat kesayangan. Ibu saya mengenakan baju batik cokelat dan kerudung hijau bermanik-manik yang diserasikan dengan sepatu hak tinggi berbahan suede warna cokelat, serta dipadupadankan dengan sebuah tas tangan warna cokelat milik adik saya yang dibeli di sebuah mini butik di sebuah Mall di Depok (penting ya?). Kalau dilihat-lihat penampilan kami memang cukup apik untuk sekedar mencari jalan keluar dari permasalahan yang tengah dialami oleh telepon genggam pintar milik Saya. Ya, apa mau dikata? Saya dan Ibu saya memang memiliki standar yang tinggi dalam urusan penampilan keseharian… dalam semua unsur aspek kehidupan sih lebih tepatnya Open-mouthed smile. Kami berangkat sekitar pukul 2 siang, waktu yang seharusnya Ibu saya habiskan untuk menonton maraton film Korea di sebuah stasiun TV swasta bersama Adik saya yang tak kalah ngefansnya terhadap Kim Boom, Kim Chi Pong, Kim Jong Il dan Kim Kim Kim yang lainnya. #WTF

     Sebelum berangkat, saya sudah mempersiapkan diri untuk menjadi manusia yang acuh terhadap sorotan mata orang-orang di jalanan. Bukan bermaksud sombong atau pamer, tapi setiap kali saya, terutama saat bersama Ibu dan Adik saya, pergi ke luar rumah, pandangan mata orang-orang yang Saya papasi acap kali menusuk raga saya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kali ini kejadiannya pun tak jauh berbeda. Se[anjang perjalanan, dari angkot pertama sampai keempat, bahkan saat menyebrang jalan, sorotan-sorotan mata itu tak bethenti menghujam raga yang lemah ini. Anehnya, sorotan ini seakan tak pernah terjadi saat kami memasuki pusat perbelanjaan yang kami tuju, kami merasa lebih diterima dengan ramah di sini. Semenjak awal, kira-kira semenjak Saya SMP, saya selalu berpikir kenapa mata-mata itu kerap tersangkut sejenak di sekitar raga saya dan keluarga. Sebenarnya saya sudah lama ingin mengungkapkan hal ini namun selalu tertahan oleh perasaan takut akan cap sombong yang akan diberikan oleh para pembaca sekalian. Namun, kali ini saya sudah tidak tahan. Dunia harus tahu siapa kami sebenarnya.

     Kembali ke permasalahan sorot-menyorot pandangan mata ini. Usut punya usut, asal punya asal, orang-orang di jalan dan di angkutan umum memandang Saya karena merasa keberadaan Saya tidak sesuai dengan semestinya. Mereka (mungkin juga kalian) berpendapat bahwa penampilan saya tidak sesuai dengan tempatnya. Maksudnya? Secara gamblang dan kasar, mereka berpikir bahwa tidak seharusnya orang yang berpenampilan “kaya” berada di dalam angkot atau berdesakan di kopaja atau tersapu debu pinggiran jalan ibu kota. Ya, banyak orang yang berpikir bahwa Saya adalah anak orang kaya. Pemikiran itu datang dari penampilan saya, terutama baju-baju yang saya kenakan. Kalian pikir saya ke-pede-an? Tunggu dulu, tunggu dulu… Faktanya sudah banyak orang yang salah mengira letak rumah saya dan keluarga. Saat ini saya tinggal di sebuah rumah (yang jelas bukan rumah saya) di sebuah komplek perumahan di Tapos, Depok. Orang-orang dari kampung seberang, termasuk para tukang sayur dan tukang becak, kerap mengira bahwa saya dan keluarga tinggal di sebuah rumah mewah yang baru dibangun di pinggiran komplek. Jika ditanya kenapa mereka berpikir demkian, mereka hanya menjawab bahwa hanya kami yang penampilannya paling pantas sebagai empunya rumah mewah itu. Padahal nyatanya rumah itu adalah milik seorang Pak Haji betawi yang didapatkannya dari hasil uang gusuran tanah beliau untuk pembangunan jalan tol Depok-Jagorawi. Aneh, sungguh aneh! Betapa sebuah pendapat dapat berkembang dari hanya penampilan semata. Hal lucu lain juga terjadi ketika Saya dan Ibu saya berjalan masuk kampung. Entah mengapa semua masyarakat sekita yang kami papasi di jalan bersikap terlalu hormat dan dimanis-maniskan, seakan-akan kami adalah jenis manusia yang dapat dijilat demi mendapatkan keuntungan material di masa butuh mereka. Saya tidak melebih-lebihkan, semua orang bisa melihat bagaimana cara orang lain meperlakukan diri mereka. Begitu pula saya yang dapat melihat sikap terlalu hormat orang-orang ini.

     Hal yang lebih lucu dan miris, justru terjadi saat saya berkeseharian dengan orang-orang yang (menurut saya) telah mengenal saya. Menurut kamus bahasa indonesia populer (-,-), orang-orang ini biasa disebut dengan “teman”. Entah kenapa (sebenarnya sih tahu ko kenapa), banyak di antara teman-teman ini yang kerap menganggap saya berasal dari keluarga yang cukup mampu. Padahal, hanya sedikit sekali yang benar-benar pernah melihat keadaan keluarga saya. Bahkan dari yang sedikit itu, masih ada di antara mereka yang berpendapat sama. Berdasarkan empirical study dan observasi yang saya lakukan, mereka mengeluarkan anggapan itu berdasarkan merk baju dan sepatu yang saya kenakan, topik pembicaraan yang kerap saya bahas, kemampuan berbahasa Inggris, sampai selera dan standar tinggi yang saya miliki. HALLO? Tahun 2011 hampir berakhir tapi kenapa banyak orang yang masih berpikiran kuno?! Pakaian, banyaaaaaak sekali tempat-tempat yang menyediakan pakaian berkualitas dengan harga terjangkau di dunia ini. Mulai dari toko online (yang pernah saya buat essay-nya), pasar festival rakyat, pasar gelap, sampai toko mahal yang sedang menggelar diskon tahunan. Masalahnya hanya kita mau capek atau tidak untuk mencari tempat-tempat itu. Masalah topik pembicaraan dan kemampuan berbahasa, bukankah Om Google jawabannya? Saya memang dari kecil sudah jatuh cinta kepada budaya barat (tanpa meniggalkan budaya Indonesia ya), tinggal cari di internet, voila jadi pintarlah kita. Perihal selera? Itu sih bawaan lahir dan cara saya dibesarkan. Alhamdulillah lingkungan saya selalu menuntut yang terbaik, tapi itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan uang. Jadi, kenapa masih banyak orang yang berpikir bahwa saya adalah seorang anak orang kaya? Logikanya, kalau saya kaya mana mungkin bisa diloloskan untuk menerima beasiswa penuh dari yayasan filantropi terkeren di Indonesia ini? Kan harus ada surat keterangan tidak mampu dari kelurahan… Masa iya lurah Saya bohong? Buat apa juga saya ngaku-ngaku tidak mampu? Bukankah setiap ucapan adalah doa? Jujur, saya memang selalu membuat standar yang tinggi dalam segala aspek hidup, termasuk kualitas barang-barang dan orang-orang yang dapat menyentuh saya. Saya melakukan hal ini bukan karena saya merasa bahwa yang biasa-biasa itu tidak pantas untuk saya, namun saya hanya ingin memantaskan diri saya agar dapat diterima oleh cara hidup yang sukses. Seperti kata motivator super sekali itu, alam semesta berjalan sesuai kehendak kita. Kalau kita memantaskan diri kita hanya untuk nilai 7, maka nilai 7 lah yang akan datang. Agama saya (yaitu islam) juga mengajarkan bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum itu tidak mau berusaha. Sebenarnya itu intinya: Saya mau merubah nasib saya dan keluarga saya menjadi lebih baik. Lebih baik bagaimana? Lebih baik dalam hal pemenuhan rasa aman, nyaman dan tenteram. Kenapa saya begitu ngoyo ? karena memang saya pernah merasakan berada di posisi yang lebih baik itu.

     Dulu, saya memang anak orang kaya. (Alm) ayah saya adalah Managing Director sebuah perusahaan kayu di kalimantan. Pekerjaan almarhum mengharuskanya untuk sering bolak-balik ke luar negeri sehingga memang jarang ada di rumah. Lihat saja paspornya, banyak cap yang lucu-lucu! *skip* Ayah almarhum ayah saya adalah seorang expatriate Pakistan yang memiliki sebuah perusahaan konveksi di Jababeka. Yah memang almarhum berasal dari keluarga yang cukup sangat berada. Di lain pihak, dulu Ibu saya bekerja sebagai asisten direktur di sebuah perusahaan minyak dari negeri paman sam. Ayah dari Ibu saya adalah seorang kepala bea cukai yang merupakan keturunan langsung silsilah keluarga kerajaan Majapahit. Ibu dari Ibu saya adalah seorang putri dari sebuah kerajaan kecil di dekat maluku, beliau bahkan memiliki sebuah pulau pribadi (tapi sekarang sudah jadi milik pemerintah). Ya, latar belakang keluarga besar saya memang membuat orang bertanya “Terus kenapa sekarang lo nulis begini?” Sabar, cerita saya belum usai. Saya dilahirkan di sebuah ruang VVIP RSPAD Gatot Subroto. Saat itu tahun 1991, biasanya hanya menteri yang memakai ruangan seperti itu (kecuali saya dan beberapa bayi beruntung lainnya Smile with tongue out). Saat saya kecil, keluarga saya memiliki 2 orang pembantu, seorang supir dan seorang tukang kebun. Saya pun disekolahkan di sebuah sekolah elit di Bogor waktu itu. Waktu kecil, setiap pagi saya selalu minum jus jeruk, dan makan salmon atau daging khas dalam, ayam juga. Dari kecil kami memang tidak dibiasakan untuk terlalu bergantung pada nasi. Pakaian? Sebut saja Guess, Gucci, Louis Vuitton sampai Rolex ada di rumah kami. Sebagai pengguna aktif bahasa Inggris yang bergaul di lingkungan internasional, kedua orang tua saya telah memperkenalkan budaya Walt Disney sampai Kenny G. semenjak saya masih belum bisa merangkak. INTINYA, saya DULU memang seperti apa yang orang-orang kebanyakan anggap. Ya, D U L U . . .

     Tahun 1996 Ayah Saya meninggal karena serangan jantung tepat di pangkuan Saya. Perusahaan yang memiliki hutang karena kena tipu disita oleh bank, begitu pula mobil dan salah satu rumah kami. Ibu saya masih bisa bertahan, setidaknya sampai tahun 1998. Krisis moneter yang menimpa Indonesia membuat perusahaan tempat Ibu saya bekerja bangkrut. Keluarga kami kehilangan segalanya, bahkan pada akhirnya kami harus menjual rumah kami. Ibu saya tidak kembali bekerja karena saat itu saya dan adik saya masih kecil dan beliau tidak mampu membayar pembantu sehingga harus mengurus semuanya sendiri sebagai seorang single parent. Saat kini kami sudah besar dan beliau ingin bekerja kembali, tak ada satupun perusahaan yang mau menerima beliau karena merasa tidak sanggup membayar beliau berdasarkan CV beliau yang terlalu “wah”. Ya, semenjak tahun 1998 hingga detik ini Saya tidak lagi kaya. Kami sudah miskin. Untuk menyambung hidup kami harus bergantung dari belas kasihan orang lain. #nahloh Itulah faktanya, saya tidak seperti yang kalian bayangkan. Saya masih bisa hidup sampai sekarang hanyalah karena perjuangan Ibu saya yang luar biasa, serta memang Allah masih menghendaki saya untuk hidup. Kalian tahu apa yang paling sulit? KEHILANGAN! Memulai hidup dalam bentuk yang lain itu susah! Terbiasa dengan semua serba ada, lalu dengan amat tiba-tiba semuanya menghilang, membuat kami harus merubah TOTAL kebiasaan kami. Kalian pikir mudah pergi kesana-kemari naik gonta-ganti angkot yang panas padahal kalian terbiasa duduk manis di mobil yang dingin? Kalian pikir mudah harus memakai baju yang amat mudahnya robek saat kalian terbiasa memakai pakaian yang dibuat khusus untuk kalian? Kalian pikir mudah untuk makan di warung pinggir jalan saat kalian terbiasa dihidangkan makan langsung oleh koki bertopi tinggi? Tidak, kawan! Merubah kebiasaan itu sangat amat sulit! Saya menghabiskan sekitar 9 tahun hidup saya untuk menyalahkan dan membenci Tuhan atas nasib yang menimpa saya. Jauh lebih sulit untuk hidup biasa ketika kalian tahu bahwa ada kehidupan yang lebih baik dari itu karena kalian sudah pernah merasakannya. Saya sudah sangat berusaha untuk menyesuaikan diri dengan keadaan, tapi saya tida mau membuat diri saya nyaman menjadi orang yang serba tidak punya. Sebab jika saya sudah merasa nyaman, saya akan kehilangan motivasi untuk meraih hidup yang lebih baik.

     Jadi, sudah tahu kan kisah saya yang sebenarnya? Tolonglah jangan kerap menyalahartikan diri saya, toh kalian tidak suka kan dianggap berbeda dari kalian yang sebenarnya? Saya memang tidak biasa tapi bukan berarti kalian harus meperlakukan saya secara tidak biasa pula. Kalian tahu kan bahwa saya bukan (lagi) orang kaya. (Untuk curhat mengenai sikap saya yang kata orang “jahat dan kejam”, nanti lagi yaaa…)

Categories: Private but readable | 10 Komentar

Our Beliefs Are Our Motives

This week we mainly talked about beliefs. Bu Mima opened the class with asking us about our self-actualization, our belief on what we have chosen. She asked me why I chose Math major. My answer was simple; because my mom told me to do so. When I rethink about this answer, I get dizzy. Does it a kind of belief too? A belief that I get because I believe on my mom so I let her to choose what should I believe about myself. She made me believe that I am capable to learn math further more in college. Back on that time, I did believe so. However, now, when I have been doing my days as a math major student for more than 2 years, my belief has changed. Like I said on the MMSEL class last Monday, I am here to survive, not to live the life. I am here because I am already here and will not give up as a coward. I am confident enough with my ability to learn and grasp whatever math SSE gives to my brain, I can survive. This realization, made me think that, again, all activities I’ve done here are my escape from math, something that I do not believe anymore as my specialization. I believe more on my English fluency, speaking ability, management and social skill rather than my ‘A’-for-Math belief. However, I will survive!

The real activity began when Bu Mima gave us an article about the influence of beliefs on motivation to learn. On the article, there are 5 types of beliefs can influence our motivation, but in class we focused on 4 of them. The first belief is beliefs about intelligence. This belief has 2 views upon intelligence: entity and incremental. On entity view, someone may believe on his/ her own capability because he/ she think that it is inherited in his/ her family. For example, a kid believes that he will be a doctor because both of his parents are doctors. As an opposite of the first view, incremental view states that intelligence is not stable; it can be changed with effort. For instance a kid with doctor parents can have his own belief that he does not necessarily have to be doctor too. Once, I had had this belief. My father was an entrepreneur, so did with his father and most of his brothers. My mom was an employee on a multinational company. I thought someday I will be like them; working on a high prestigious building with my Armani suit, Bottega shoes and Aigner bag along with. It was on high school when I realized that I can be something else. Since I used to be an MC and being the best in many presentation projects, I want to be a public relation or an ambassador. This was, most probably, an example of entity view that changed into incremental. The second belief is self-efficacy: beliefs about capability. This belief refers to our certainty on our ability in doing a specific thing. For example, maybe I am not certain with my ability in mathematics but I do certain that I can count well. Again, this is happened to me. Like I have described before, I am no longer certain about my pathway in mathematics. However, I am sure that I can still handle it because I am certain with my brain ability in doing calculation and understanding story problems. The next one is belief about value. This belief has 3 kinds of values: attainment value, utility value, and cost. The first value is a belief that comes as a result on how we were being valued in the past. The second one, utility value, is a belief in doing something because one believe that it will be useful for its future although one doesn’t like it. Cost value is a belief that in doing something must be exist another things that have to be sacrificed.

Another thing about belief is that as a teacher we have to be believed by our students. One of the ways to lose that believe (in this case, I would prefer to say it as TRUST) is by talking a language our students can’t understand. It doesn’t have to be  a different language. Sometime it is the same language that’s spoken with a different style. For instance this conversation occurred in Singlish (Singaporean English). It might not be conversation between teacher and students but, well, you will see lah Singaporean Conversation Transcript.

Overall, I learned about my own belief in this class. I do motivated by my beliefs, some of them are intrinsic motivation and other is extrinsic ones. I also learned that as a teacher we need to recognize our students’ beliefs. By knowing this we can anticipate any possibility that might impact our students performance in class. Eventually, one thing that I believe for sure is that something good doesn’t necessarily mean to be right but a right thing will always be good.

Categories: Educational Writing | Tinggalkan komentar

AE21C: Affective Domain in Our Education

Week 1

What Others Say?

In the first meeting of Affective Education for 21st Century course, we were introduced to another domain of learning that used to be considered last in the teaching learning process; the affective domain. There are 3 important parts (or I may say keywords) of the course: affective, instruction and 21st century learning. Based on Prof. Pannen’s explanation, affective part’s scope includes affective skills, competences, learning, objectives, and domain. The second keyword means everything happens in between of teaching and learning like strategies, methods, and the way teacher delivers her/ his materials. The last part which is 21st century learning refers to what time context we learn the course. This also refers to demanded skills and competency standards, related to affective, in this era.

Krathwohl (1964) describes affective learning as a learning that is demonstrated by behaviors indicating attitudes of awareness, interest, attention, concern, and responsibility, ability to listen and respond in interactions with others, and ability to demonstrate those attitudinal characteristics or values which are appropriate to the test situation and the field of study. He also made taxonomy that known worldwide as Krathwohl’s taxonomy of affective domain. The taxonomy is ordered according to the principle of internalization. Internalization refers to the process whereby a person’s affect toward an object passes from a general awareness level to a point where the affect is ‘internalized’ and consistently guides or controls the person’s behavior (Seels & Glasgow, 1990)

There are 5 levels or steps in the taxonomy. The first level of the taxonomy is Receiving. It refers to the student’s willingness to attend to particular phenomena of stimuli. The example of student’s behavior when they are reaching this step is when students are listening to discussions of controversial issues with an open mind. The second one is Responding. This step refers to active participation on the part of the student. At this level he or she not only attends to a particular phenomenon but also reacts to it in some way. The example is when the students participate in a group discussion on a certain topic. The third level is Valuing that refers to willingness to be perceived by others as valuing certain ideas, materials, or phenomena. It showed by the students when they show their ability in solving problems or demonstrates their belief in a democratic process. Next step is Organization. It is concerned with bringing together different values, resolving conflicts between students, and beginning the building of an internally consistent value system. For instance when students recognize own abilities, limitations, and values and developing realistic aspirations.

What I say?

When I heard about Affective Education for 21st Century for the first time, I thought the course will be mainly about what kind of education that effective for 21st century. I thought the students will be asked to discuss and propose a solution of affective education along the way on the course. Even though revealed that it is not, I do not sorry.

Affective education, after I attended the first meeting, for me is a very powerful learning domain that sometimes can exceed cognitive and psychomotor area because it is dealing with heart, emotion, and mood. Especially since our future students are adolescent that mostly in the stage of identity vs role confusion of Erikson’s stages. They have storm and stress phase that can influence their affective domain. Affective instructions will define students’ act, motivation, point of view in seeing the world, etc. From what I have experienced, there are not many Indonesian ‘regular’ schools that have really applied affective education. They always focus on how to get their students pass the tests like UN and SNMPTN. Sometimes the teacher do ‘whatever’ it takes to reach that goal, even things that opposing affective education. Here, many schools give affective education separately from other subjects and put the responsibility to one or two budi pekerti teacher. I think that is silly. It seems to imply that math, physics and language have nothing to do with values, manner, and motivation. It also feels like not every teacher that has to be affectively involved with their students, we only need one (or two) instead. No wonder why there are so many smart and skilled people who try to own the whole world for themselves. This is something that we need to improve about our education.

On the other hand, affective education should include how each student does their daily life. We will not teach them, we show it to them. As teachers, I think the best affective education that we can teach has to come from our selves. We need to demonstrate it so that they will imitate it and apply it in their life. That is why affective education just very important.

Source:

http://assessment.uconn.edu/docs/LearningTaxonomy_Affective.pdf

http://classweb.gmu.edu/ndabbagh/Resources/Resources2/krathstax.htm

Categories: Educational Writing | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 729 pengikut lainnya.