Pengusaha Penyelamat Bangsa

Indonesia membutuhkan peningkatan jumlah pengusaha nasional untuk membebaskan bangsa dari kemelut ekonomi.

Pada tahun 2009, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa jumlah penduduk Indonesia telah mencapai angka 231 juta jiwa. Hal ini mengakibatkan munculnya berjuta masalah dalam perkembangan negeri ini. Hal ini telah membawa Indonesia kepada berjuta masalah yang mengikutinya. Salah satu masalah yang paling menonjol adalah kurangnya lapangan pekerjaan yang tersedia, terutama bagi sekitar 14% rakyat miskin di negeri ini. Ketiadaan pekerjaan yang tetap berpenghasilan seringkali menggiring banyak orang kepada keputusan yang nekad; mencuri, korupsi, menggembel, bahkan bunuh diri. Keprihatinan semacam inilah yang membuat para generasi muda yang kreatif untuk unjuk gigi dalam proyek-proyek bisnis penyelamatan bangsa.

Belakangan ini, banyak para pemuda yang memutuskan bahwa sekarang bukan saatnya lagi mencari pekerjaan, tetapi menciptakannya. Berdasarkan data yang didapat dari situs resmi Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga pada tahun 2009, saat ini Indonesia hanya memiliki 400.000 pengusaha nasional. Hal ini sangatlah jauh dari standard minimal kepengusahaan dunia. Karena, faktanya sebuah negara membutuhkan paling tidak 2% dari total penduduknya sebagai pengusaha nasional untuk memajukan perekonomian negaranya. Itu berarti saat ini masih tersedia 4,4 juta lapangan pekerjaan sebagai pengusaha nasional baru di negeri kita tercinta. Berdasarkan data tersebut, maka benarlah tindakan orang-orang seperti Hendy Setono (pendiri Kebab Turki Baba Rafi) dan Gigin Mardiansyah (pencipta boneka Horta) dalam menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi rakyat kalangan menengah kebawah negeri ini.

Dengan boneka Hortanya, Gigin Mardiansyah yang baru berumur 26 tahun pada Maret yang lalu, telah berhasil memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di Ciomas menjadi wanita-wanita yang mampu menopang keuangan keluarganya sebagai pegawai pembuat boneka Horta. Pengusaha-pengusaha semacam inilah yang dibutuhkan oleh Indonesia. Para pengusaha yang peduli pada kalangan bawah, bukan hanya dalam bentuk memberikan sedekah saja, tetapi juga melibatkan mereka dalam neraca perekonomian sebagai pekerja-pekerja yang produktif.

Tidak mau ketinggalan dengan para pengusaha muda, para mahasiswa pun turut unjuk gigi dalam misi penyelamatan bangsa ini. Sekarang ini, sering kita temui banyak pelatihan kepengusahaan (entrepreneurship workshop) di berbagai universitas di Indonesia. Contohnya saja entrepreneurship workshop yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa Universitas Indonesia dan Sampoerna School of Education yang tergabung dalam Sampoerna Foundation Scholars Club Jakarta (SFSCJ) yang bekerjasama dengan Starbucks Indonesia selama bulan April ini. Mereka mengadakan pelatihan bagi siswa/i SMK se-Jabodetabek mengenai keahlian dan pengetahuan dalam berbisnis, seperti cara pembuatan business plan (rencana bisnis) dan pengajuan kredit usaha. Pemilihan target peserta yang notabenenya adalah pelajar SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) didasarkan pada asumsi bahwa 3 tahun pendidikan kejuruan telah memberikan mereka keahlian untuk berkarya, persoalannya adalah bagaimana caranya agar mereka mampu menyalurkan keahlian tersebut menjadi sesuatu yang menghasilkan. Tujuan jangka panjangnya, tentu saja untuk menciptakan lebih banyak lagi pengusaha muda yang kreatif guna memenuhi kuota 2% pengusaha nasional.

Lebih jauh dari sekedar pelatihan, kini juga banyak dijumpai sekolah-sekolah bisnis guna mencetak pengusaha-pengusaha baru Indonesia, seperti Prasetya Mulya Business School, Universitas Ciputra Entrepreneurship Centre, dan Sampoerna School of Business. Institusi-institusi semacam ini menawarkan berbagai program yang menjanjikan para mahasiswanya untuk menjadi pengusaha yang profesional dan ahli di bidangnya

Sekilas tampak bahwa dunia kepengusahaan Indonesia telah mengalami kegesitan yang semakin memuncak; banyaknya pengusaha muda baru bermunculan, ramainya pelatihan bisnis di kalangan pelajar dan mahasiswa, serta didirikannya sekolah-sekolah khusus keusaahaan. Rasanya semua penderitaan bangsa ini akan segera berakhir. Apakah iya? Dari semua uraian di atas tidak tampak adanya dukungan pemerintah yang berarti. Apakah mereka tidak peduli? Tentu saja mereka PEDULI! Pemerintah, dalam hal ini diwakili oleh departemen-departemen di kementrian pusat,  juga menyediakan banyak program dukungan bagi para calon pengusaha yang baru memulai bisnisnya, sebut saja pnpm mandiri sebagai salah satu bentuk nyatanya. Selain itu, lewat berbagai departemen di pemerintahan, pemerintah juga menyediakan modal usaha dalam bentuk hibah bagi penduduk Indonesia yang mengalami kesulitan keuangan. Sistemnya sangat mudah dan menguntungkan, para calon pengusaha hanya tinggal memberikan proposal mereka dan jika disetujui akan diberikan modal GRATIS sebesar lebih dari 4 juta rupiah. Sayangnya program semacam ini belum terekspos secara luas sehingga belum banyak masyarakat kita yang mengetahui akan kemudahan ini.

Setelah semua pilihan dan kemudahan itu, sekarang tinggal kita yang memutuskan. Masih seberapa lama lagi kita mau tenggelam dalam keterpurukan? Sudah bukan waktunya lagi untuk mengemis meminta belas kasih demi sesuap nasi. Sekarang adalah waktunya untuk berkarya dan berusaha di atas kaki sendiri. Ciptakan lapangan pekerjaan baru dan hidupkan kembali gairah ekonomi bangsa ini! Jadi, apakah anda termasuk dalam 4,4 juta pengusaha baru Indonesia itu?

Categories: Educational Writing | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: