Awal Mula (1)

“Besok LPJ kumpul ya!”, isi sms dari sang presiden.

waktu menunjukan pukul 7 malam, saat itu aku masih dalam perjalanan menuju rumah dari kampus. memang aku terbiasa pulang larut, maklum mahasiswa banyak acara. hehe. saat membaca sms itu, aku tenang-tenang saja. LPJ sudah selesai di buat oleh sekretarisku, tinggal diberi sentuhan akhir saja. laporan keuangan pun telah dirampungkan oleh ibu bendahara umum. Sesampainya di rumah aku hanya tinggal menyatukan yang belum padu saja. Semua tersimpan rapih di Flash Disc Kingston putih 2GB-ku, seperti halnya data-data dan tugas kuliah lainnya dalam 8 bulan belakangan selama aku belajar di Sampoerna School of Education ini. Berarti aku harus menyimpan tenaga untuk terjaga lebih lama malam itu, akupun menghabiskan sisa perjalanan pulang dengan memejamkan mata di atas angkot biru itu.

Sesampainya di rumah, aku tak langsung menemukan diri di depan PC tua ku. Panggilan perut yang belum terisi semenjak siang lebih pandai merayuku ke depan meja makan. Hmmm, spaghetti saus Bolognese. Setelah makan akupun masih menyempatkan diri untuk menonton televisi. Gambar bergerak di layar kaca 21” itu hanya berlalu tanpa arti di mata ku yang sudah mengantuk. Dengan menjuntai, aku lalu melangkahkan kaki ke kamar untuk memulai pekerjaan yang sempat tertunda tadi. Inilah nasib seorang PIC (Person In Charge), disaat panitia yang lain sudah dapat melanjutkan hidup mereka, aku masih harus bertengger di depan komputer untuk melaporkan hasil kerja mereka, kerja kita. Bukannya mengeluh loh, hanya mengungkapkan apa yang ada seada-adanya. Hahaa.

Lima belas menit setelah tombol “Power” ku tekan, akhirnya PC berbasis Windows XP dengan Microsoft 2003 yang kudapatkan sebagai hadiah juara 1 saat kelas 2 SMP itu pun menyala. Ya, ini memang komputer tua! Kini aku tengah menabung untuk menggantinya dengan komputer jinjing (laptop) sejenis MacBook atau Toshiba, butuh waktu yang ‘agak’ lama memang. Maklum, ibuku sudah tak bekerja, ayahpun sudah tiada. Saat ini hanya kiriman beasiswa dari Sampoerna Foundation saja yang kerap mengisi akun rekening BCA ku. Setelah segala update software ku ‘cancel’, aku pun mulai membuka situs-situs jejaring social ku; Facebook, Twitter, Plurk, Yahoo, Google, dan Blog. Sembari menunggu ‘loading’ koneksi internet yang cukup parah untuk ukuran Indonesia, aku pun meraih tas yang selalu setia mendampingi hari-hari ku menuntut ilmu selama di kampus untuk mengambil FD-penyimpan-masa-depanku. Ku rogoh-rogoh, ku raba-raba, benda putih berbahan plastic dengan kalung gantungan itu tak dapat kutemukan. Sontak aku panic. PANIK! Masa iya FD ku hilang? Aku periksa kembali seluruh isi tas, aku tumpahkan segala yang ada di dalamnya. Tetap tidak ada. FD ku benar-benar HILANG! Otakku berpikir keras, di mana aku terakhir meletakannya? Bagai disambar petir aku pun ingat, AHA…! FD itu masih tergantung di salah satu PC di Lab ICT kampus. Tadi aku habis mengirim email. Sungguh ceroboh aku ini. Padahal sesaat sebelum pulang aku malah mengingatkan teman-temanku agar FD mereka tidak ketinggalan. Bukankah ironi namanya?

Tak terbiasa kehilangan barang, kau tak mau merelakannya begitu saja. Aku yakin benar FD itu ada di mana. Kalau harus menunggu esok pagi, aku takut FD itu hilang. Memang sih biasanya OB yang membersihkan lab akan menyimpankan barang-barang yang tertinggal, tapi tetap saja aku tak enak hati. Aku pun berinisiatif untuk menghubungi teman yang masih ada di kampus untuk menyimpankannya untukku. Kira-kira siapa ya yang masih ada di kampus? Seakan di hantam segulung ombak dan di godam sebongkah palu, aku pun mengingat siapa yang BISA aku mintai tolong. Dia yang selama beberapa bulan terakhir selalu aku jauhi, dia yang beberapa kali datang di mimpi burukku, dia yang sudah menyampaikan salam perang terbuka, dia yang PERNAH menjadi sahabatku. RF! (saat menulis blog ini situasinya sudah tidak sepanas itu ya…) aku pun sempat panas dingin saat harus mengetik namanya di kontak handphone ku. (lebai sangat ini). Aku pun mengesampingkan ego dan image, ini lebih penting dari apapun. FD ini masa depanku. Sms pun ku ketik dengan sesingkat-singkatnya dan sebiasa-biasanya. Ku klik “send”. Hampir tak bisa bernafas aku dibuatnya.

Lama waktu berselang (10 menit), sms tak kunjung dibalas. Aku lalu mengambil keputusan untuk meneleponnya. Tapi apa harus? YA! Sekali lagi ku ketik namanya di kontak hp-ku, ku pencet tombol ‘dial’. Tuuutt…tuuutt…”assalamualaikum”, “waalaikumussalam”, jawabku sekenanya. “Ada ga FD nya?”, “ada”, “tolong simpenin ya!”, “siip..siip.. tenang aja”, “thank you!”. Langsung ku tutup telefon itu. kuping ku panas bukan main, tersengal-sengal aku menahan heran. Sungguh aku tak mau berspekulasi tentang apa yang akan terjadi esok hari. Hah! Sudahlah, besok ya besok. Sekarang kau mau istirahat. Tanpa masalah per-FD-an ini pun aku sudah cukup lelah. Dalam 5 menit, aku pun sudah terhanyut di alam mimpi.

Categories: Private but readable | 6 Komentar

Navigasi pos

6 thoughts on “Awal Mula (1)

  1. Dian Eki

    Firzie, ada baiknya kamu lebih rileks terhadap perbedaan. Mungkin terasa asing ya, dengan rekan yang seiman berbeda pandangan. Aku pun dulu sulit menerima perbedaan itu. Namun hidup di Bali membuatku terbiasa melihat berbagai perbedaan sebagai hal yang positif. Perbedaan itu bagian dari lukisan Tuhan dalam galery hidup setiap insan loh. Sampai akhirnya aku benar-benar menyadari hidup ini terasa indah dengan semakin banyaknya perbedaan. Terimalah hal itu dengan pikiran positif yang dirimu punya seperti pikiran positifmu ketika menerima sepiring nasi goreng spesial yang dibuatkan oleh ibumu di suatu pagi.
    Aku terharu dengan keadaanmu yang menantang itu. Tidak banyak yang mampu bertahan dalam kondisi seperti itu dan tetap berkarya. Tuhan pasti tambah sayang dirimu. Percayalah, masa itu pasti akan segera datang, hanya butuh sedikit kesabaran lagi untuk menggapai segala keinginanmu. Cobalah untuk lebih luwes dengan siapa saja. Tidak mudah tersinggung atau berburuk sangka terhadap tindakan orang lain. Cobalah bersikap biasa saja terhadap orang yang kamu sayangi. Sehingga hatimu pun tidak terlampau sakit, ketika ada sikap yang mungkin tidak sesuai dengan logikamu. Tetap semangat ya. Allah selalu bersamamu.

    • firzie

      ga ada hubungannya sama sekali sama masalah pandangan yang berbeda dalam satu agama ko…
      masalah aku sama dia PURE masalah pribadi yg tak bisa dijelaskan di sini. klo masalah prinsip dia mah aku oke oke aja, i can honor that!
      masalahnya lebih ke sikap,hehehe
      ya begitulah…

  2. Tiwi

    Knp sma si RF itu?? Cb klo ga ad dia, gmn nasib lo?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: