3 Kata Untuk Selamanya…

Arti nama saya? Nama saya terdiri dari 3 kata, dan masing-masingnya memiliki sejarah arti yang berbeda pula. Nama depan saya sedikit agak menyusahkan orang lain. Banyak teman dan rekan yang di pertemuan pertama tidak dapet menyebutkan nama saya dengan tepat. Apalagi para orang asing (bule), mereka mengucapkan nama saya seperti nama seorang penyanyi wanita terkenal di USA. Teman-teman yang sudah kenal dekat pun kerap memelesetkan nama saya menjadi idiom yang sangat kental berbau feminitas.

Salah satu cerita unik dengan nama depan saya adalah pada saat saya duduk di bangku SMP. Merupakan hal yang lumrah apabila saat ujian kita diawasi oleh guru dari SMP yang lain, katanya orang asing akan lebih objektif mengawasinya. Saat itu adalah ujian Pendidikan Agama Islam, saya mendapatkan seorang pengawas dari sekolah Katolik yang juga beragama katolik. Selayaknya pengawas kebanyakan, dia berjalan-jalan mengitari meja para murid. Saat dia melintas di depan meja saya, dia berhenti untuk meneliti Kartu Ujian yang ditempel di meja. Tiba-tiba dia bertanya, “kamu tidak salah kelas?”. Sontak saya kaget ditanya seperti itu. Saat saya menanyakan sebab pertanyaannya, dia dengan enteng menjawab “Ujian agama Kristen dilakukan di ruangan lain”. Dia mengira nama saya adalah nama Kristen, padahal ibu dan ayah saya mengambil nama saya dari Al-Quran yang berarti rejeki. Meskipun demikian, setelah pemenggalan yang saya rasa kurang tepat, artinya kini menjadi sama sekali lain. Tetap saja, doa dari orangtua saya ya seperti itu.

Nama tengah saya lebih aneh lagi sejarahnya. Kali ini ayah sayalah yang bertanggung jawab penuh atas nama ini. Dulu, almarhum ayah saya bekerja sebagai Managing Director sebuah kantor cabang perusahaan Exportir di Kalimantan. Beliau sangat dekat dengan pemilik perusahaan tersebut, sampai-sampai mereka membuat sebuah perjanjian yang melibatkan saya yang saat itu bahkan belum dibuat. Mereka berjanji apabila masing-masing memiliki anak laki-laki maka anak itu akan dinamai dengan nama satu sama lain. Jadilah saya memiliki nama atasan ayah saya, dan anak atasan ayah saya memiliki nama ayah saya. Sayangnya, sampai saat ini saya belum pernah berjumpa dengan anak atasan ayah saya itu.

Nama belakang saya adalah nama keluarga ayah saya. Sebagai penganut paham patrilinialisme, ayah saya yang bukan asli orang Indonesia itu memiliki kewajiban untuk mewariskan nama itu kepada setiap anak laki-laki dalam keluarga. Kewajiban yang juga mengikat saya dan putra saya nantinya. Sedangkan untuk arti dari nama itu sendiri saya tidak tahu, ayah saya sudah menghadap Allah sebelum saya sempat menanyakan artinya. Anehnya, kenapa ya saya tidak pernah bertanya kepada 19 saudara kandung ayah saya yang bernama keluarga sama?

Itulah sedikit sejarah tentang nama saya. Semoga kisah ini dapat membuat anda lebih memahami diri saya yang kompleks ini. Terima kasih.

Categories: Educational Writing | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: