Karena Aku Bukan Rama: Coretan (Mungkin) Sampah

Rama dan Shinta

Pernahkah kalian merasa seperti kalian sudah melakukan semua dengan maksimal, hasilnya pun cukup memuaskan, pujian dan sanjungan tak hentinya datang atas kinerja kita, tapi rasanya masih ada lubang menganga di hati?

Seperti ada hal yang kurang, tapi tak tahu entah apa.

Layaknya seekor singa yang telah memangsa seekor gajah namun masih tetap ingin mengunyah meskipun perutnya sudah besar kekenyangan.

Seperti ada seekor kupu-kupu yang tengah menari riang di dalam perut hingga mengiris dinding lambung.

Bagaikan menaiki tangga dengan mata tertutup namun terjatuh karena ada satu anak tangga yang hilang.

Mencelos? Kosong? Hampa di tengah beratus bintang dan kegaduhan semesta?

Bukankah semua itu membuncahkan rasa penasaran di dada; Ada Apa Gerangan? Apa yang kalian lakukan selanjutnya? Mulai mencari jawaban di Google dengan kata kunci ‘gelisah’? Mungkin malah ngTweet kegalauan itu sampai di-RT oleh para followers yang terusik karena timeline-nya dipenuhi 140 karakter tak bermakna? Atau bahkan beranjak ke tempat tidur, menutup diri dengan selimut, dan berpura-pura bahwa perasaan itu tidak pernah ada? Melanjutkan hidup? Apa?

Saya…

Saya hanya melakukan hal yang paling bisa saya lakukan. Hal yang selalu membuat saya terpejam dan berpikir begitu dalam: REFLEKSI! Caranya? Observation dan empirical studies. Akhirnya, setelah membaca begitu banyak status teman-dunia-maya di ‘Facebook’ dan memikirkan tentang arti dari sebuah keberadaan, saya pun mengerti apa yang menyebabkan perasaan itu.

S E N D I R I

Ah, galau kah ini? Bila iya pun tak apa.

Saya menemukan bahwa selama ini saya bekerja begitu keras hanya untuk diri sendiri. Meskipun yang saya lakukan adalah kerja sosial yang tak menghasilkan keuntungan materi dan atas nama orang banyak, semua itu saya lakukan hanya karena egoisme semata. Bukan, utamanya bukan untuk mencari pengalaman dan memperluas jaringan demi masa depan yang gemilang. Itu hanya alibi yang dibentuk otak untuk membenarkan perbuatan yang dianggap orang banyak begitu anomali namun luar biasa. Lalu untuk apa? Hanya ada satu jawaban yang mungkin untuk pertanyaan ini:

P E L A R I A N

Melarikan diri dari kepengecutan untuk menjalin sebuah hubugan antar individu yang terikat dan menguntungkan satu sama lain dalam segi perasaan. Atau, dalam bahasa awamnya, memiliki seorang pasangan hidup a.k.a. pacaran, yang mungkin berujung pada pernikahan. (Ah, akhirnya terungkapkan juga semua ini!)

Jadi selama ini saya luas dalam hubungan publik, pembicara cerewet di depan umum, penampil lebih di atas pentas, hanya sebagai pelampiasan tak tercapainya hubungan pribadi yang baik? Saya tidak akan mengatakan itu 100% benar; because I love performing. Tapi, ya sedikit banyak mungkin ada betulnya.

Lalu, bagaimana bisa semua ini bermula?

Sejak kecil saya dididik dan dibesarkan oleh seorang ibu tunggal luar biasa dengan kalimat “Masih kecil jangan pacaran. Nanti kalo udah kerja baru boleh. Kalo kamu banyak uang, cewe bakalan banyak yang ngejar-ngejar!” Diucapkan hampir setiap hari tanpa ada satu orangpun di sekeliling yang membantah, kalimat itu menjadi sebuah doktrin pembungkus segala akal dan pendasar segala laku. Di sekolah, saya seorang bintang. Angka di raport hampir selalu memuaskan, tingkah laku sopan merebut hati begitu banyak pemegang tampuk sekolah, bertumpuk sertifikat menjadi bukti betapa tidak bisa diamnya saya dalam organisasi, menjadi yang pertama tahu adalah keseharian, kerumunan pun membelah saat saya melangkah. Sempurna? Tidak ada manusia yag sempurna. Semenak lahir sampai saat tulisan ini dibuat, saya selalu sendiri. Teman dan sahabat, saya punya banyak. Lebih dari itu, nihil. Ah, betapa doktrin wanita luar biasa itu menentukan jalan hidup saya. Ketika sampai di bangku SMA, saya mulai berpikir mugkin inilah saatnya saya menjadi lebih seperti orang lain. Sedikit nakal dan bebas. Allah berkata lain, lagi-lagi organisasi merebut hati dan perhatian saya. Bahkan kali ini lebih menguatkan doktrin lama itu. Bergabung dalam sebuah organisasi keagamaan (ini 1 dari 5 orgaisasi yang saya ikuti di SMA), saya terbungkus dalam pola pikir dan prinsip agamis. “pacaran itu haram”, “satu sentuhan dengan yang bukan muhrim berarti satu pukulan godam di neraka”, “jaga pandangan dan tangan antum”. Ya, saya tetap pada jalan hidup saya sebagai pribadi luar biasa yang selalu mencoba bermanfaat bagi khalayak.

Sekarang? Masa kini? Ya saat ini? Hei, umur sudah hampir kepala 2! Saya masih tetap seorang pengecut yang ahli mencari pelarian dan pelampiasan. Bukankah menikah itu sunah Rasul? Bagaimana saya bisa menikah, yang notabenenya adalah terjalinnya sebuah hubungan jiwa dan raga secara pribadi dengan seseorang, bila sampai kini tak sampai hati untuk memulainya? Jangankan pacaran, menyatakan sebuah perasaan ingin berbagi hati terhadap sebuah individu saja tak sanggup. Hei, saya pernah ko merasakan perasaan itu terhadap perwujudan rusuk adam. Sekitar 8 hawa silih berganti mengisi kekosongan itu, tapi ya hanya sebatas dalam alam pikiran dan hati sendiri. Tak pernah satupun berujung kepada sebuah hubungan antara 2 individu yang melibatkan perasaan untuk saling berbagi hati. Apa namanya itu kalau bukan pengecut? Skala prioritas untuk mencapai kesuksesan dunia? Apa gunanya kalau tak ada orang untu berbagi nantinya di atas tangga sukses itu? Bukankah pemikiran semacam ini sangat amat mengganggu produktifitas kita?

Ah, sudahlah…

Biarkanlah wayang Rama dan Shinta di atas meja kerjaku yang mewakili pernyataan perasaan itu. Setidaknya mereka tidak sendiri, saya turut bahagia untuk itu.

Depok, 7 Mei 2011

Categories: Private but readable | 9 Komentar

Navigasi pos

9 thoughts on “Karena Aku Bukan Rama: Coretan (Mungkin) Sampah

  1. Deshinta

    kak Firzie lihai pula dalam menulis… awalnya bingung kenapa gambar wayang yang dipasang.. baca sampe bawah baru mudeng.. sip sip sip

    • kalau ga lihai ga mungkin jadi editor majalah kampus donk
      ;p
      hahaha
      thanks ya

      • Deshinta

        barusan baca lagi,, untuk kesekian kalinya.. hmm lebih dalam…
        rasanya kok anda benar…
        berada di puncak kesuksesan namun tiada teman berbagi..rasanya sepiii..

        tapi yasudahlah.. hidup toh terus berjalan..
        galau pasti berlalu..sepi pun akan berlalu…

        cinta pasti menemukan jalannya..suatu saat nanti..

  2. anisthoha

    Cool, kerenz, tulisannya kayak hidup. Bisa berbagi ilmu buat nulis blog ini. Mohon bimbingannya mas firzie. Bagaimana cara menulis blog yang bersifat technical, analysis dan review, contoh di bidang teknologi.
    Btw, mengomentari posting blog anda. Jangan anggap diri anda pengecut karena belum menjalin hubungan spesial seperti pacaran. Kenapa?, karena meskipun anda punya pacar bukan berarti itu ukuran seorang yang tidak pengecut. Justru, seperti yang sudah saya alami, pacaran itu tidak selalu seindah yang dibayangkan. Banyak efek negatif dari hubungan tersebut. Contoh, sebuah pertengkaran, kecemburuan dan perdebatan yang tidak diperlukan, itu akan menguras pikiran kita. Hasilnya, produktifitas menurun. Mas Firzie harusnya bangga atas banyaknya prestasi dan sertifikat yang sudah di raih. Memangnya mau ditukar sama hubungan spesial seperti pacaran. Kalau menurut saya itu tidak sebanding. Menurut saya, di usia muda ini kita mesti produktif menghasilkan banyak prestasi untuk masa depan. Itu juga yang sedang saya gali.
    Pacaran yang baik ya setelah nikah,
    Mengenai jodoh, kenapa dipusingkan?kan sudah diatur oleh Alloh, tinggal kita menjemputnya. Semua pasti dapat bagiannya yang terbaik.amien

  3. Nice

    Hahaahhaha…😀
    (>,<)d

  4. Great post. I will be going through some of these
    issues as well..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: