Mengajar Tak Sesulit Diajar, di Sini!

Mahasiswa Sampoerna School of Education atau STKIP Kebangkitan Nasional. Banyak orang mungkin bertanya-tanya “apa sih yang dilakukan di sana?”, “apa bedanya kampus itu dengan yang lain?”, “sekolah guru ya? kalau lulus jadi guru dong?”. Beberapa orang lain mungkin tanpa bertanya langsung menunjukan kekaguman mereka terhadap kemampuan mahasiswanya untuk dapat memasuki sekolah itu. Mereka kagum bukan karena sekolah itu telah memiliki nama besar akan keberhasilan sistem pengajarannya, tapi lebih karena ada kata SAMPOERNA di sana. Yang mereka tahu, jika kata tersebut digabungkan penggunaannya dalam kalimat yang berbau sekolah, artinya hanya satu: beasiswa. Ya, mereka kagum karena mahasiswanya bisa mendapatkan beasiswa itu. (bukti autentik dapat dilihat di mading SEMA di depan perpustakaan). Jikalau demikian, memangnya seperti apa sih kehidupan kampus di SSE?

Hmmm… Jawaban dari pertanyaan ini amat beragam, tergantung dari siapa yang hendak menjawabnya. Jika saya yang ditanya seperti itu maka saya akan menjawab SULIT BELAJAR!

Apa? Kenapa? Maksudnya? Jadi di SSE lingkungannya tidak mendukung sehingga mahasiswanya tidak dapat belajar dengan baik? Atau mungkin mata kuliah yang diberikan terlalu horor sehingga tidak dapat dengan mudah dipelajari begitu saja? Ataukah banyak mahasiswa di sana yang anarkis dan hedonis yang gemar membuat teman mereka sendiri sebagai target pelampiasan emosi sesaat?BUKAN, TENTU SAJA BUKAN ITU MAKSUDNYA!

Untuk menjawab pertanyaan di atas, terlebih dahulu saya harus sedikit menjabarkan keadaan yang ada di kampus muda ini. Well, saya tidak akan menjelaskan tentang visi misi dan kelebihan-kelebihan yang ada di sana, anda dapat mengakses www.sampoernaeducation.ac.id untuk mengetahui hal itu dan segera meninggalkan laman ini. Yang jelas, sebagai calon pendidik, kami di SSE dibekali dengan berbagai macam ilmu yang menunjang calon karir masa depan kami itu. Mulai dari pengetahuan tentang psikologi remaja, cara memberi instruksi di kelas, cara menilai siswa, berbagai macam motivasi dan teori perkembangan yang dapat mendukung KBM di kelas, hingga penggunaan bahasa Inggris dan ICT dalam mewujudkan kelas yang aktif, kreatif dan kompetitif. Pokoknya sedini mungkin kami dipersiapkan untuk dapat menjadi guru yang yang mumpuni deh. Nah, di saat yang bersamaan, kami masih juga menyandang status sebagai mahasiswa. Kami harus belajar berbagai hal, kebanyakan dari dosen, agar dapat dinyatakan sebagai calon guru yang baik. Sisi baik dari hal ini adalah, dengan mengetahui bagaimana cara membangun pembelajaran yang baik maka kami dapat menerapkan ilmu tersebut ke dalam sudut pandang kita sebagai orang-orang yang diajar: siswa/i. Ya, bisa dikatakan bahwa kami melakukan uji coba terhadap sesama kami agar ketika nanti harus menghadapi kelas sungguhan maka kami sudah lebih siap.

Lalu apa masalahnya? #sabarbisakali

Nah, sebagai orang yang dibekali dengan berbagai ilmu mutakhir tentang cara membangun kelas yang baik, tentu sedikit banyak kami (atau dalam hal ini “saya” karena tidak mau mengeneralisir teman-teman yang lain) tahu tentang kriteria pendidik yang baik. Kadang kala, sebagai pemuda yang penuh dengan gairah dan gejolak, saya masih banyak dipenuhi dengan idealisme-idealisme tentang bagaimana seharusnya dunia berjalan. Seringkali otak ini mendahulukan pemikiran-pemikiran yang egois dan sesumbar mengenai segala sesuatunya. Jadi, ketika saya sedang berada di kelas untuk mengikuti kelas dosen mata kuliah tertentu, saya cenderung kurang memperhatikan apa yang beliau ajarkan namun lebih kepada bagaimana beliau mengajar. Hati nurani saya ingin membuktikan bahwa apa-apa yang selama ini dicekokan kepada kami tentang pendidik yang baik telah teruji dan teraplikasikan paling tidak di tempat di mana kami menimba ilmu tersebut. Hal inilah yang kerap menjadi masalah bagi saya. Setiap kali dosen mengajar, terutama di pertemuan-pertemuan awal, saya berubah menjadi semacam kritikus pasif terhadap performa dosen tersebut. Memang sih penilaian itu hanya saya simpan untuk diri saya sendiri, namun sedikit banyak hasil penilaian itu memengaruhi motivasi belajar saya di kampus. Jika dosen tersebut, dalam pandangan saya yang masih awan dan sok tahu ini, kurang sesuai dengan ekspetasi saya tentang implementasi teori mengajar yang selama ini kami dapatkan di kelas, maka saya cenderung kehilangan minat untuk mempelajari mata kuliah tersebut. Penurunan motivasi ini hanyalah sebuah contoh lain dari penelitian yang mengakatan bahwa guru menentukan 70% keberhasilan muridnya belajar (lupa siapa yang membuat penelitian ini). Syukur-syukur harapan saya terpenuhi, saya akan jauh amat sangat semangat dalam mengikuti perkuliahan tersebut.

Inilah sulitnya mengajar calon pengajar! Selain kita harus menyampaikan materi pembelajaran, kita juga harus menaruh perhatian lebih kepada bagaimana cara kita mengajar. Karena, bisa jadi pengetahuan dosen dan mahasiswa tentang teori belajar sama banyaknya sehingga jika dosen hanya mengajar seadanya hal itu akan langsung tertangkap oleh mahasiswa dan membuatnya kehilangan kepercayaan dari para mahasiswanya. Nah loh, gimana dong? Salah ‘nggak sih saya berpikiran seperti ini? Bukankah kami memang juga dididik untuk kritis dalam menanggapi segala sesuatunya? Tapi kalau ujung-ujungnya malahan jadi meremehkan dosen apa boleh? Ah, mungkin memang saya yang salah. Sifat menilai seperti ini memang sudah saya miliki semenjak lama. Saya selalu menilai pantas atau tidaknya seseorang untuk mendapatkan keistimewaan memasuki kehidupan saya. Dalam beberapa hal, sifat ini memang baik untuk meningkatkan kemampuan observasi dan kewaspadaan agar tidak tercemplung dalam jurang kekecewaan. Namun, apakah penggunaannya untuk hal seperti yang telah saya jabarkan, pantas adanya?

Ah, sudahlah. Intinya bagi saya di SSE itu lebih mudah MENGAJAR daripada DIAJAR!

Categories: Private but readable | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: