Kami Bukan (Lagi) Orang Kaya

     Sore tadi, Saya dan Ibu saya pergi ke sebuah pusat perbelanjaan, yang bahasa kerennya adalah Mall, di bilangan Jakarta Timur. Sebut sajalah Cibubur Junction #eh. Seperti layaknya masyarakat Indonesia kebanyakan, kami menggunakan transportasi umum (baca: angkot) untuk menuju ke dan pulang dari Mall tersebut. Saya mengenakan celana berbahan denim dan sebuah Polo shirt serta menenteng sebuah tas selempang cokelat kesayangan. Ibu saya mengenakan baju batik cokelat dan kerudung hijau bermanik-manik yang diserasikan dengan sepatu hak tinggi berbahan suede warna cokelat, serta dipadupadankan dengan sebuah tas tangan warna cokelat milik adik saya yang dibeli di sebuah mini butik di sebuah Mall di Depok (penting ya?). Kalau dilihat-lihat penampilan kami memang cukup apik untuk sekedar mencari jalan keluar dari permasalahan yang tengah dialami oleh telepon genggam pintar milik Saya. Ya, apa mau dikata? Saya dan Ibu saya memang memiliki standar yang tinggi dalam urusan penampilan keseharian… dalam semua unsur aspek kehidupan sih lebih tepatnya Open-mouthed smile. Kami berangkat sekitar pukul 2 siang, waktu yang seharusnya Ibu saya habiskan untuk menonton maraton film Korea di sebuah stasiun TV swasta bersama Adik saya yang tak kalah ngefansnya terhadap Kim Boom, Kim Chi Pong, Kim Jong Il dan Kim Kim Kim yang lainnya. #WTF

     Sebelum berangkat, saya sudah mempersiapkan diri untuk menjadi manusia yang acuh terhadap sorotan mata orang-orang di jalanan. Bukan bermaksud sombong atau pamer, tapi setiap kali saya, terutama saat bersama Ibu dan Adik saya, pergi ke luar rumah, pandangan mata orang-orang yang Saya papasi acap kali menusuk raga saya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kali ini kejadiannya pun tak jauh berbeda. Se[anjang perjalanan, dari angkot pertama sampai keempat, bahkan saat menyebrang jalan, sorotan-sorotan mata itu tak bethenti menghujam raga yang lemah ini. Anehnya, sorotan ini seakan tak pernah terjadi saat kami memasuki pusat perbelanjaan yang kami tuju, kami merasa lebih diterima dengan ramah di sini. Semenjak awal, kira-kira semenjak Saya SMP, saya selalu berpikir kenapa mata-mata itu kerap tersangkut sejenak di sekitar raga saya dan keluarga. Sebenarnya saya sudah lama ingin mengungkapkan hal ini namun selalu tertahan oleh perasaan takut akan cap sombong yang akan diberikan oleh para pembaca sekalian. Namun, kali ini saya sudah tidak tahan. Dunia harus tahu siapa kami sebenarnya.

     Kembali ke permasalahan sorot-menyorot pandangan mata ini. Usut punya usut, asal punya asal, orang-orang di jalan dan di angkutan umum memandang Saya karena merasa keberadaan Saya tidak sesuai dengan semestinya. Mereka (mungkin juga kalian) berpendapat bahwa penampilan saya tidak sesuai dengan tempatnya. Maksudnya? Secara gamblang dan kasar, mereka berpikir bahwa tidak seharusnya orang yang berpenampilan “kaya” berada di dalam angkot atau berdesakan di kopaja atau tersapu debu pinggiran jalan ibu kota. Ya, banyak orang yang berpikir bahwa Saya adalah anak orang kaya. Pemikiran itu datang dari penampilan saya, terutama baju-baju yang saya kenakan. Kalian pikir saya ke-pede-an? Tunggu dulu, tunggu dulu… Faktanya sudah banyak orang yang salah mengira letak rumah saya dan keluarga. Saat ini saya tinggal di sebuah rumah (yang jelas bukan rumah saya) di sebuah komplek perumahan di Tapos, Depok. Orang-orang dari kampung seberang, termasuk para tukang sayur dan tukang becak, kerap mengira bahwa saya dan keluarga tinggal di sebuah rumah mewah yang baru dibangun di pinggiran komplek. Jika ditanya kenapa mereka berpikir demkian, mereka hanya menjawab bahwa hanya kami yang penampilannya paling pantas sebagai empunya rumah mewah itu. Padahal nyatanya rumah itu adalah milik seorang Pak Haji betawi yang didapatkannya dari hasil uang gusuran tanah beliau untuk pembangunan jalan tol Depok-Jagorawi. Aneh, sungguh aneh! Betapa sebuah pendapat dapat berkembang dari hanya penampilan semata. Hal lucu lain juga terjadi ketika Saya dan Ibu saya berjalan masuk kampung. Entah mengapa semua masyarakat sekita yang kami papasi di jalan bersikap terlalu hormat dan dimanis-maniskan, seakan-akan kami adalah jenis manusia yang dapat dijilat demi mendapatkan keuntungan material di masa butuh mereka. Saya tidak melebih-lebihkan, semua orang bisa melihat bagaimana cara orang lain meperlakukan diri mereka. Begitu pula saya yang dapat melihat sikap terlalu hormat orang-orang ini.

     Hal yang lebih lucu dan miris, justru terjadi saat saya berkeseharian dengan orang-orang yang (menurut saya) telah mengenal saya. Menurut kamus bahasa indonesia populer (-,-), orang-orang ini biasa disebut dengan “teman”. Entah kenapa (sebenarnya sih tahu ko kenapa), banyak di antara teman-teman ini yang kerap menganggap saya berasal dari keluarga yang cukup mampu. Padahal, hanya sedikit sekali yang benar-benar pernah melihat keadaan keluarga saya. Bahkan dari yang sedikit itu, masih ada di antara mereka yang berpendapat sama. Berdasarkan empirical study dan observasi yang saya lakukan, mereka mengeluarkan anggapan itu berdasarkan merk baju dan sepatu yang saya kenakan, topik pembicaraan yang kerap saya bahas, kemampuan berbahasa Inggris, sampai selera dan standar tinggi yang saya miliki. HALLO? Tahun 2011 hampir berakhir tapi kenapa banyak orang yang masih berpikiran kuno?! Pakaian, banyaaaaaak sekali tempat-tempat yang menyediakan pakaian berkualitas dengan harga terjangkau di dunia ini. Mulai dari toko online (yang pernah saya buat essay-nya), pasar festival rakyat, pasar gelap, sampai toko mahal yang sedang menggelar diskon tahunan. Masalahnya hanya kita mau capek atau tidak untuk mencari tempat-tempat itu. Masalah topik pembicaraan dan kemampuan berbahasa, bukankah Om Google jawabannya? Saya memang dari kecil sudah jatuh cinta kepada budaya barat (tanpa meniggalkan budaya Indonesia ya), tinggal cari di internet, voila jadi pintarlah kita. Perihal selera? Itu sih bawaan lahir dan cara saya dibesarkan. Alhamdulillah lingkungan saya selalu menuntut yang terbaik, tapi itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan uang. Jadi, kenapa masih banyak orang yang berpikir bahwa saya adalah seorang anak orang kaya? Logikanya, kalau saya kaya mana mungkin bisa diloloskan untuk menerima beasiswa penuh dari yayasan filantropi terkeren di Indonesia ini? Kan harus ada surat keterangan tidak mampu dari kelurahan… Masa iya lurah Saya bohong? Buat apa juga saya ngaku-ngaku tidak mampu? Bukankah setiap ucapan adalah doa? Jujur, saya memang selalu membuat standar yang tinggi dalam segala aspek hidup, termasuk kualitas barang-barang dan orang-orang yang dapat menyentuh saya. Saya melakukan hal ini bukan karena saya merasa bahwa yang biasa-biasa itu tidak pantas untuk saya, namun saya hanya ingin memantaskan diri saya agar dapat diterima oleh cara hidup yang sukses. Seperti kata motivator super sekali itu, alam semesta berjalan sesuai kehendak kita. Kalau kita memantaskan diri kita hanya untuk nilai 7, maka nilai 7 lah yang akan datang. Agama saya (yaitu islam) juga mengajarkan bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum itu tidak mau berusaha. Sebenarnya itu intinya: Saya mau merubah nasib saya dan keluarga saya menjadi lebih baik. Lebih baik bagaimana? Lebih baik dalam hal pemenuhan rasa aman, nyaman dan tenteram. Kenapa saya begitu ngoyo ? karena memang saya pernah merasakan berada di posisi yang lebih baik itu.

     Dulu, saya memang anak orang kaya. (Alm) ayah saya adalah Managing Director sebuah perusahaan kayu di kalimantan. Pekerjaan almarhum mengharuskanya untuk sering bolak-balik ke luar negeri sehingga memang jarang ada di rumah. Lihat saja paspornya, banyak cap yang lucu-lucu! *skip* Ayah almarhum ayah saya adalah seorang expatriate Pakistan yang memiliki sebuah perusahaan konveksi di Jababeka. Yah memang almarhum berasal dari keluarga yang cukup sangat berada. Di lain pihak, dulu Ibu saya bekerja sebagai asisten direktur di sebuah perusahaan minyak dari negeri paman sam. Ayah dari Ibu saya adalah seorang kepala bea cukai yang merupakan keturunan langsung silsilah keluarga kerajaan Majapahit. Ibu dari Ibu saya adalah seorang putri dari sebuah kerajaan kecil di dekat maluku, beliau bahkan memiliki sebuah pulau pribadi (tapi sekarang sudah jadi milik pemerintah). Ya, latar belakang keluarga besar saya memang membuat orang bertanya “Terus kenapa sekarang lo nulis begini?” Sabar, cerita saya belum usai. Saya dilahirkan di sebuah ruang VVIP RSPAD Gatot Subroto. Saat itu tahun 1991, biasanya hanya menteri yang memakai ruangan seperti itu (kecuali saya dan beberapa bayi beruntung lainnya Smile with tongue out). Saat saya kecil, keluarga saya memiliki 2 orang pembantu, seorang supir dan seorang tukang kebun. Saya pun disekolahkan di sebuah sekolah elit di Bogor waktu itu. Waktu kecil, setiap pagi saya selalu minum jus jeruk, dan makan salmon atau daging khas dalam, ayam juga. Dari kecil kami memang tidak dibiasakan untuk terlalu bergantung pada nasi. Pakaian? Sebut saja Guess, Gucci, Louis Vuitton sampai Rolex ada di rumah kami. Sebagai pengguna aktif bahasa Inggris yang bergaul di lingkungan internasional, kedua orang tua saya telah memperkenalkan budaya Walt Disney sampai Kenny G. semenjak saya masih belum bisa merangkak. INTINYA, saya DULU memang seperti apa yang orang-orang kebanyakan anggap. Ya, D U L U . . .

     Tahun 1996 Ayah Saya meninggal karena serangan jantung tepat di pangkuan Saya. Perusahaan yang memiliki hutang karena kena tipu disita oleh bank, begitu pula mobil dan salah satu rumah kami. Ibu saya masih bisa bertahan, setidaknya sampai tahun 1998. Krisis moneter yang menimpa Indonesia membuat perusahaan tempat Ibu saya bekerja bangkrut. Keluarga kami kehilangan segalanya, bahkan pada akhirnya kami harus menjual rumah kami. Ibu saya tidak kembali bekerja karena saat itu saya dan adik saya masih kecil dan beliau tidak mampu membayar pembantu sehingga harus mengurus semuanya sendiri sebagai seorang single parent. Saat kini kami sudah besar dan beliau ingin bekerja kembali, tak ada satupun perusahaan yang mau menerima beliau karena merasa tidak sanggup membayar beliau berdasarkan CV beliau yang terlalu “wah”. Ya, semenjak tahun 1998 hingga detik ini Saya tidak lagi kaya. Kami sudah miskin. Untuk menyambung hidup kami harus bergantung dari belas kasihan orang lain. #nahloh Itulah faktanya, saya tidak seperti yang kalian bayangkan. Saya masih bisa hidup sampai sekarang hanyalah karena perjuangan Ibu saya yang luar biasa, serta memang Allah masih menghendaki saya untuk hidup. Kalian tahu apa yang paling sulit? KEHILANGAN! Memulai hidup dalam bentuk yang lain itu susah! Terbiasa dengan semua serba ada, lalu dengan amat tiba-tiba semuanya menghilang, membuat kami harus merubah TOTAL kebiasaan kami. Kalian pikir mudah pergi kesana-kemari naik gonta-ganti angkot yang panas padahal kalian terbiasa duduk manis di mobil yang dingin? Kalian pikir mudah harus memakai baju yang amat mudahnya robek saat kalian terbiasa memakai pakaian yang dibuat khusus untuk kalian? Kalian pikir mudah untuk makan di warung pinggir jalan saat kalian terbiasa dihidangkan makan langsung oleh koki bertopi tinggi? Tidak, kawan! Merubah kebiasaan itu sangat amat sulit! Saya menghabiskan sekitar 9 tahun hidup saya untuk menyalahkan dan membenci Tuhan atas nasib yang menimpa saya. Jauh lebih sulit untuk hidup biasa ketika kalian tahu bahwa ada kehidupan yang lebih baik dari itu karena kalian sudah pernah merasakannya. Saya sudah sangat berusaha untuk menyesuaikan diri dengan keadaan, tapi saya tida mau membuat diri saya nyaman menjadi orang yang serba tidak punya. Sebab jika saya sudah merasa nyaman, saya akan kehilangan motivasi untuk meraih hidup yang lebih baik.

     Jadi, sudah tahu kan kisah saya yang sebenarnya? Tolonglah jangan kerap menyalahartikan diri saya, toh kalian tidak suka kan dianggap berbeda dari kalian yang sebenarnya? Saya memang tidak biasa tapi bukan berarti kalian harus meperlakukan saya secara tidak biasa pula. Kalian tahu kan bahwa saya bukan (lagi) orang kaya. (Untuk curhat mengenai sikap saya yang kata orang “jahat dan kejam”, nanti lagi yaaa…)

Categories: Private but readable | 10 Komentar

Navigasi pos

10 thoughts on “Kami Bukan (Lagi) Orang Kaya

  1. beby lokita salsabila

    daddy :’) inspiring story ..
    ga sabar nunggu lanjutannya ..

    • Jangan ditunggu, palingan abis UAS baru sempet bikin itu…
      hehehe
      makasih ya beb

      • beby lokita salsabila

        diliat dari komennya pada nunggu lanjutan kisah daddy tuuh, lanjutt gannn😀 bagus kok tulisannya, kalo udah ada postingan baru aku diupdate ya😉

  2. Deshinta

    oo..jadi begitu ta.. GREAT
    jadi penasaran sama kisah “sikap jahat”..
    ditunggu posting selanjutnya..😛

  3. Oke banget dah..
    klo gue apa coba: RAS.
    tante & Umi gue pernah dicium tangannya sama nenek2 (jauuuh bgt lebih tua dr tante n Umi gue coba)..katanya berkah n apalah itu.
    pernah juga minta, “doain donk biar hajat saya terkabul, kan lebih deket ke Rasul ya sampean”..Udah ditola ribuan kali tetep aja..
    Tapi gilirann klo ga ikut acara keagamaan kampung, disindir, “Bu Haji ga pernah ikutan yaa”, padahal Umi gue blom haji.
    Kadang orang emang asumsi sendiri level orang lain tanpa ngeliat “dalemnya” gmana..:(

    • Oh ya? sampe sebegitunya kah?
      Cuma gara-gara mata belo dan idung mancung jadi di cap lebih dekat sama nabi? Ga masuk akal deh..
      tapi ya masyarakat Indonesia emang jagonya bikin asumsi toh? pelajaran buat kita juga kali ya bahwa kita ga bisa mengeharapkan orang mengerti kita, kita yang harus membuat mereka mengerti. ya ga sih?
      Emang sebel sih asal diasumsikan oleh orang, kadang emang masalahnya di komunikasi (untuk orang yang berakal sehat). Kalo di kampung2 emang susah sih ya…
      Kembali lah masalahnya ke pendidikan yang harusnya merata dan bla..bla.bla..blaaaa
      ckckckk

  4. great….😀

  5. bagus… saya pernah ada diposisi kaka🙂
    belajar itu memang sulit ka🙂
    semangat !!!

  6. Ewin

    Wow baru baca cerita ini… Inspiring oy!
    judulnya ‘beyond the Me’ #ngarang
    Oke, segera post cerita dibalik sifat jahatnya, biar menyudahi ke suujonan orang2 haha
    jadi mikir, kayaknya kalo cerita ini dikembangin lebih banyak dialognya pasti bagus deh kalo dibuat film ato kisah layar pendek😀, tapi jangan sinetron pliis ==’
    anyway, Nice story😀

    Notes:baca ini pas lagi bed rest 3 hr, jadi semangat lagi!!! arigatoo🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: