Karena Mereka, Aku Yakin Jadi Guru

“Lagi-lagi sekolah katolik…!”

Itu adalah kesan pertama saya saat ditugaskan untuk melaksanakan school experience program (SEP) untuk yang keenam kalinya pada semester ini. Bukannya saya anti terhadap kelompok agama tertentu atau tidak suka mengajar di sekolah seperti itu, saya hanya bosan karena selama 2 tahun terakhir saya selalu ditempatkan di sekolah-sekolah sejenis. Sebagai seorang calon guru Matematika, ingin rasanya saya mencoba mempraktikan semua teori yang saya dapat di kampus dalam kelas sungguhan yang heterogen. Sedangkan, setelah 3 kali mengajar di sekolah katolik, saya jadi terbiasa dengan murid-murid yang pada umumnya memiliki latar belakang, budaya, dan intelegensi yang itu-itu saja. Hal ini membuat saya berpikir bahwa SEP kali ini tidak akan spesial, biasa-biasa saja. Ya, itu sebelum saya bertemu dengan mereka.

2 April 2012, saya harus berangkat jauh lebih pagi dari biasanya karena harus menuju sekolah tempat saya mengajar di bilangan Palmerah, Jakarta Barat. Sekolah tujuan saya kali ini adalah SMA Regina Pacis, sebuah sekolah yang sudah tidak asing lagi. Ya, tidak asing karena beberapa waktu yang lalu saya pernah mewakili kampus untuk mengikuti pameran pendidikan tinggi di sekolah tersebut. Setidaknya saya tidak akan nyasar lah. Kedatangan kami disambut baik oleh seluruh pihak di sekolah, terutama oleh para gurunya yang kece dan keren abis! (ceritanya anak gaul :p) Meskipun saya harus menunggu agak lama untuk dapat bertemu dengan guru pamong saya, suasana di sekolah itu tidak membuat saya menjadi tertekan ataupun gelisah. Mungkin karena sudah kali keenam saya melakukan hal ini jadi sudah terbiasa, atau mungkin juga karena saat itu saya tidak tertarik dengan sekolah tersebut yang, sepertinya, sama saja dengan sekolah yang sudah-sudah. Ah, betapa sesatnya paradigma kala itu! Setelah berbagai pertimbangan dan pembagian, saya mendapatkan ‘jatah’ mengajar di kelas X-2. Saat itu yang saya pikirkan hanyalah betapa saya ingin segera menyelesaikan SEP ini dan kembali ke kampus untuk segera menyelesaikan skripsi saya yang sempat tertunda. Lagi, betapa saya akan menyesali pemikiran itu!

Tanpa pernah melakukan observasi, keesokan harinya saya sudah harus terjun mengajar di kelas X-2. Presentasi power point, lesson plan dan soal-soal seputar dimensi tiga sudah siap di tangan. Saya siap untuk mengajar. Anehnya, kali ini saya tidak merasakan kegugupan yang biasa saya rasakan di SEP-SEP sebelumnya. Entah mengapa suasana kelas itu begitu menenangkan. Ditambah lagi guru pamong saya, sebutlah Ibu I, sangat mengayomi dan terbuka terhadap segala ide dan keinginan saya. Saya memulai kelas dengan sedikit berantakan, maklum kendala teknis dengan teknologi di lapangan. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, saya merasakan ada sesuatu yang mengalir dalam diri saya. Awalnya sesuatu ini datang dari perut, seperti ada sensasi ombak yang mendayu dan burung yang berkicau di bawah mentari. Lalu, ia mulai menjalar ke dada seperti angin yang menghembuskan udara musim semi setelah musim dingin yang berkepanjangan, sensasi kelegaan yang penuh harapan. Lanjut ia menjalar ke kepala, wajah, dan otak membuat mereka bekerja terpadu dalam memberikan penampilan terbaik di hadapan 30 orang pemuda-pemudi yang entah mengapa terlihat begitu menenangkan. Tak berapa lama, saya sadar bahwa sesuatu yang saya rasakan itu adalah kebahagiaan. Ya, saya BAHAGIA mengajar mereka. Apakah saya akhirnya menyerah kepada keputusan Tuhan yang menginginkan saya mengajar? Ataukan itu hanya sebuah euforia sesaat karena mendapati sebuah kelas yang sesuai dengan perencanaan? Entahlah, yang jelas saat itu saya hanya merasa BAHAGIA.

Pertemuan pertama, kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Saya tidak bisa menceritakannya secara detail, yang bisa saya katakan adalah saya tidak mau berpisah dengan mereka. 30 orang siswa-siswa kelas X-2 SMA Regina Pacis Jakarta. Bagaimana tidak? Setiap pelajaran, mereka selalu aktif bertanya dan menjawab. Materi pun diserap dengan cepat. Yang lebih penting lagi adalah bagaimana cara mereka memperlakukan saya. Saya benar-benar merasa dihargai sebagai seorang guru. Bukan hanya karena mereka patuh dan penurut, tapi lebih karena kata-kata manis yang keluar dari mulut mereka (yang saya asumsikan adalah kejujuran). Berapa banyak sih guru matematika yang disambut dengan sorakan dan tepuk tangan saat ia masuk kelas? Berapa banyak pelajaran matematika yang ketika selesai justru membuat murid-murid yang diajar merasa sedih kehilangan? Berapa banyak sih murid yang tahu benar bagaimana membahagiakan guru praktek yang baru mereka kenal? Ah, untuk pertanyaan terakhir ini saya tahu jawabannya: 30 orang! Kertas refleksi dan dialog singkat saya dengan mereka penuh dengan kata-kata “kaka ngajar terus aja di sini”, “kaka gantiin Ibu B*** aja”, “You are the best teacher I’ve ever known”, dan sebagainya. Saya merasa jauh lebih dihargai di sini daripada di tempat manapun yang pernah saya kunjungi dalam hidup saya. Saya hanya di sana selama 2 minggu tapi saya berani berkata bahwa kebahagiaan yang saya dapat jauh lebih banyak dari kebahagiaan yang saya dapat selama setahun belakangan. Saya benar-benar diperlakukan sebagai manusia yang keberadaannya dapat bermanfaat bagi orang lain. Itulah mengapa saya, mungkin agak aneh sih, menyayangi mereka.

Ah, saya terlalu banyak berbicara basa-basi. Saya hanya ingin menuliskan tentang mereka, anak-anak yang luar biasa. Pertama ada Tirta yang mengejutkan saya dengan pertanyaannya tentang garis sejajar, yang menurut sumber yang ia baca, akan berpotongan di suatu titik. Bagi saya ini adalah pertanyaan yang luar tidak biasa karena menyiratkan sebuah wawasan yang luas dan ketertarikan mendalam terhadap matematika. Lalu ada Vina yang tidak akan menyerah sampai mendapat penjelasan yang lengkap saat keyakinannya diragukan. Luar biasa! Roby, sang wakil ketua kelas yang awalnya nampak nakal namun memilki jiwa kepemimpinan yang cukup tinggi. Dea, selalu berani mencoba menjawab, apapun resikonya. Juan, Arvin, Eric, Christine, para murid dambaan semua guru. Saya yakin mereka akan menjadi orang hebat suatu saat nanti. Ada Chris, seorang yang jika saya kenal lebih lama, mungkin dapat menjadi sahabat yang baik. Gio, yang meskipun terlihat pemalu namun saya bisa melihat ada bintang yang menuggu untuk bersinar di salam dirinya. Budhy, baru keliatan setelah selesai mengajar sih, a good friend indeed. Wah, pokoknya banyak deh kenangan yang saya miliki bersama mereka! Saya tidak bisa menyebutkan semua satu per satu, sudah malam cuy, ngantuk. Besok harus bagun pagi ada job di kampus, haha. Intinya, saya bangga dan bahagia bisa bertemu mereka ber-30.

Terima kasih X-2!

 

Categories: Private but readable | Tags: , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: