Lembar-lembar Pelarian

Aku berlari. Lagi-lagi aku berlari. Sekali lagi aku melarikan diri. Anehnya, ketika aku menoleh ke belakang, tidak ada sesuatu pun yang mengejar. Tidak ada juga yang mencoba menahan. Siapa juga yang peduli dengan sosok seperti aku ini? Ah! Lalu, dari (si)apa aku berlari? Aku pun masih mencoba mencari jawaban dari pertanyaan itu. Yang jelas, aku tidak tahan berdiam saja. Diam membuatku gundah, resah, gelisah. Tak suka aku pada diam. Tak rindu aku pada sepi. Sudah terlalu banyak diam dan sepi yang aku alami. Kali ini aku harus berlari, melarikan diri, sekali lagi. Hanya saja, ke mana aku harus berlari? Dengan tubuh seloyo ini, memangnya aku mampu berlari? Berjalan saja sudah gontai, apalagi berlari?

BUKU! Satu-satunya tempat tujuanku berlari adalah buku. Aku tidak butuh kaki untuk pelarian yang satu ini. Tak peduli segontai apa tubuhku, aku akan selalu bisa berlari ke dalam buku. Ah, betapa aku jatuh cinta terhadap buku. Tapi, bukan buku sembarang buku. Aku hanya cinta buku yang dapat membawaku berlari. Lari dari tugas yang memanggang otak di tempat yang seharusnya mencerdaskan. Lari dari percakapan-percakapan amarah di rumah. Lari dari busuknya udara jalanan kota besar tiada ampun. Lari dari harapan-harapan yang diluluhlantahkan oleh orang-orang tak punya malu. Lari dari sakit karena kasih yang tak berbalas. Lari dari kehidupan abu-abu yang membosankan. Lari dari kenyataan. Lari dari semua hal menjijikan itu ke dalam berbagai petualangan dalam buku-buku novel fiksi-imajinasi. Pengecut memang, tapi yang jelas aku butuh berlari.

Image

Beberapa saat yang lalu terlintas dalam benak gue sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik. β€œKenapa ya gue suka baca buku fiksi-imajinasi?” Hampir seketika setelah pertanyaan itu muncul, jawabannya pun jelas terpampang di depan mata: karena gue butuh pelarian! Jika dalam salah satu tulisan blog terdahulu gue pernah mengungkapkan bahwa pelarian gue adalah kesibukan organisasi, maka kali ini gue akan bercerita tentang pelarian gue yang lain. Pelarian yang jauh lebih indah dan adil. Pelarian yang tidak pernah mengecewakan dan selalu membuai rasa. Ya, pelarian itu adalah BUKU.

Buku, terutama kisah fiksi-imajinasi, selalu menyajikan asupan kreatifitas bagi otak gue. Beberapa kisah yang ditulis dengan apik dan epik dapat membuat gue high dan lupa segalanya. Bau buku yang baru dibuka dari bungkusnya adalah adiksi yang tak tertahankan. Suara gemerisik kertas yang dibalik seindah musik bagi telinga yang jemu. Buku membawa gue berlari dari semua permasalahan yang ada. Kadang untuk sejenak, kadang untuk selamanya. Membaca buku bukan sekedar hobi tapi sebuah pelarian. Sebuah pelarian paling indah bagi pribadi yang kesepian. Pertanyaannya, kenapa juga gue butuh pelarian? Karena, hanya buku yang bisa mengerti dan menerima gue apa adanya. Gue punya banyak teman dan beberapa sahabat. Sayangnya, mereka semua manusia. Manusia yang masih memiliki perasaan, ego, keinginan dan nafsu. Dengan itu, mereka tidak bisa menjadi tempat pelarian sejati. Bukan salah mereka tidak bisa mengerti gue. Salah gue yang tidak bisa memahami mereka. Itulah mengapa gue lebih memilih buku: buku tidak mengeluh, meminta ataupun menghina. Buku hanya akan mengerti dan membawa pergi masalah kita jauh-jauh lalu menggantinya dengan kisah-kisah yang mencandukan. Bagaimana mungkin gue tidak jatuh cinta pada buku?

Menyedihkan engga’ sih? Ada manusia yang lebih mencintai buku dari manusia lain. Bagaimana bisa? Kalau kalian mengalami hidup yang gue alami, kalian pasti bisa mengerti alasannya. Kisahnya panjang dan tak akan gue ceritakan di sini. Terlalu banyak orang yang akan tersinggung kalau gue tuliskan. Intinya, tidak ada satupun manusia yang benar-benar bisa mengerti dan gue percaya. Hanya buku yang bisa. Buku yang merupakan kumpulan dari lembar-lembar pelarian. Lagi, gue melarikan diri.

Categories: Private but readable | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: