Kisah 17 Januari: Sebuah Pelukan Hujan

Hujan!

Banyak orang yang tidak suka dengan hujan, apalagi kalau orang-orang itu berkegiatan di kota Jakarta. “Hujan tuh bikin banjir, bikin macet di mana-mana!”, sebuah ujaran yang tak asing di telinga penduduk kota metropolitan ini di saat musim hujan menjelang. Tak sedikit pula yang mencintai, bahkan memuja hujan. Kata mereka hujan itu bawa rejeki, memberikan kesuburan pada ladang dan kebun, serta membawa pelangi dan kicauan burung pipit setelahnya (okey, itu lebay!). Gw? Gw sih ga punya perasaan khusus tuh sama si hujan, ga suka, tidak pula membencinya. Ya bersyukur aja kalau dia datang dan biasa aja kalau dia lupa berkunjung. Namun, kini semua itu berubah. 17 Januari telah memuat perasaan gw terhadap hujan berat sebelah.

17 Januari 2013.

Hari dimulai seperti biasa, tidak ada yang istimewa. Awan mendung, udara mengembuskan rasa dingin di tengkuk, serta rasa malas yang terasa menggerogoti hati. Sebuah suasana yang biasa di musim penghujan di kota penyangga Jakarta yang terkenal dengan belimbing dan anjuran makan dengan tangan kanannya (red: Depok). Akan indah cerita ini jika gw memutuskan untuk tetap berada di kota itu. Sayang, bukan itu kenyataan yang terjadi. Gw harus berangkat kuliah ke Jakarta. Yup, kota metropolitan yang kece dengan semua polemik dan keriuhannya di saat musim penghujan. Setelah melakukan rutinitas robot yang biasa, gw pun melangkahkan kaki untuk menuntut ilmu ke kampus tercinta. Untuk mencapai kampus, gw biasanya naik angkot 2 kali sampai pasar rebo dan dilanjutkan dengan bus transjakarta hingga Pancoran. Semua perjalanan itu biasanya menghabiskan 1,5-3 jam waktu gw dalam sehari. Ya, biasanya…

Perjalanan dimulai. Angkot pertama memberikan tiada kesan yang berarti. Biasa, biasa saja. Di angkot kedua, kisah ini mulai sedikit menarik (kalau lo suka kisah ironi penuh penderitaan dan kesedihan, maka ya kisah ini menarik!). Saat gw berada dalam angkot kedua, si hujan mulai turun dari rumahnya yang empuk di awan. Awalnya hanya berupa rintikan-rintikan kecil tak berarti. Namun, dalam waktu yang tak begitu lama, si hujan berubah pikiran. Ia deras dan kejam. Dideru angin dan hawa dingin, ia memeluk setiap makhluk yang ada di jalanan, bahkan mereka yang kurang beruntung tinggal di rumah yang kurang memadai pun tak lupa dipeluknya. Gw? Sayangnya gw termasuk dalam mereka yang kurang beruntung itu. Bedanya, gw bukan sedang ada di dalam rumah, tapi di dalam angkot. Ko bisa? Ya bisalah, angkotnya bocor! Pinggir jendela, atap mobil dan lantai angkot itu meneteskan (dan menyemburkan sih kalau dari lantai) si hujan yang kurang bersahabat. Alhasil tubuh gw pun dipeluk oleh si hujan. Sebuah pelukan yang basah dan dingin menusuk tulang. Untung saja gw sedang mengenakan jaket anti air yang gw dapatkan dari sebuah konferensi salah satu perusahaan komputer terkemuka, jadi ya pelukan itu tidak terlalu menyentuh kulit tubuh gw yang kedinginan. Itu, pelukan pertama.

Sesampainya di Pasar Rebo, gw pun turun menembus hujan bersenjatakan sebuah payung lipat berwarna biru. Kali ini si hujan memeluk gw dengan lebih erat. Untung saja gw terselamatkan oleh kekeringan kolong jembatan, jadi gw bisa sedikit menolak pelukan si hujan. Tiada disangka, sesampainya di halte transjakarta pasa rebo, si hujan memberikan sebuah kejutan yang kurang menyenangkan. Dia masih belum menyerah untuk memeluk gw seutuhnya. Terpampang sebuah pengumuman yang nampaknya ditulis terburu-buru yang menyatakan bahwa koridor 7, 8 dan 9 transjakarta ditutup. Padahal gw harus melalui koridor 7 dan 9 untuk dapat sampai ke kampus. Ya, hebat! Memutar otak yang tengah membeku karena dipeluk hujan, akhirnya gw memutuskan untuk bertualang dengan sahabat lama gw: kopaja 57. Hari ini dia membuktikan bahwa ia memang sebentuk sahabat sejati. Meskipun 1,5 tahun terakhir gw telah meyelingkuhi dia dengan bus transjakarta, hari ini dia kembali menerima gw dengan pintu terbuka dan roda terputar cepat. Bayangkan saja, untuk menempuh jarak dari Pasar Rebo ke Cililitan dia hanya memakan waktu 10 menit. Kalau naik bus transjakarta, 30 menit yang perlu gw luangkan (dengan terpaksa). Sahabat gw, kopaja 57, membawa gw melewati jalan-jalan kenangan yang biasa gw lewati dulu saat masih berkuliah di Tendean. Mulai dari Dewi sartika, hingga kalibata. Hanya saja, kali ini Kalibata tidak menyambut gw dengan senyum cerianya yang dulu. Ia tengah menangis, bersedih dan basah. Bagaimana tidak, semua rumah di sepinggir jalanan itu terbenam banjir hingga setinggi hampir menyentuh atap. Mereka telah menjadi korban pelukan hujan yang ganas. Ah, saat itu gw hampir menangis dibuatnya. Baru kali itu gw melihat banjir yang sebenarnya. Televisi ternyata tidak memberikan gambaran yang nyata tentang betapa mengerikannya banjir itu. Televisi membuat kenyataan itu terasa jauh dan tak akan terjadi kepada gw. Ah, untung saja sisa-sisa pelukan hujan di tubuh gw masih ada, jadi bisa untuk menutupi air lain yang tiba-tiba menggelinang di sudut mata. Itu, pelukan kedua.

Sampailah gw di ujung jalanan Kalibata. Gw pun meninggalkan sahabat lama gw untuk berganti dengan kopaja yang lain, yang mengarah ke kampus gw. Ah, betapa gw berterima kasih terhadap sahabat lama gw yang hebat itu. Di lampu merah gw menunggu. Lagi, si hujan memeluk gw. Lucunya (ga lucu sih, tapi miris), payung yang gw pakai seperti bersekongkol dengan si hujan untuk memeluk gw. Atau, mungkin dia hanya kalah atas serangan hujan itu. Intinya, payung gw BOCOR! Yeaaah, si hujan berhasil memeluk gw lagi. Dingin, basah dan kuyu gw dibuatnya. Entah kenapa penungguan gw tak membuahkan hasil. Kopaja yang mengarah ke kampus gw tak kunjung datang. Dengan terpaksa, di tengah pelukan hujan, gw memutuskan untuk berjalan kaki dari Kalibata hingga kampus. Ya, disinilah si hujan mencumbu gw habis-habisan. Hanya selapis jaket dan seonggok payung bocor yang bisa gw pakai untuk melawan cumbuan dingin si hujan. Beku, dingin, namun gerah dengan emosi. Setelah kurang lebih 15 menit dipermainakan oleh si hujan dengan berbagai peluk, cumbu dan tamparan, akhirnya gw sampai di kampus. Itu pelukan ketiga.

Ya, akhirnya gw sampai! Tak sabar rasanya untuk langsung masuk kelas dan mulai belajar. secara udah dipeuk hujan lama-lama, otak gw butuh dihangatkan dari kebekuannya. Melangkahlah gw ke lantai 2 untuk mencari kelas pengganti yang harus gw hadiri hari ini. Namun, tiba-tiba, si hujan berulah lagi. Dia tidak hanya memeluk gw, tapi juga memeluk banyak mahasiswa dan dosen lain yang berkelana di Jakarta. Ia memanggil banjir dan macet untuk menguatkan pelukannya atas kota Jakarta. Setangguh apapun kampus ini, akhirnya takluk juga pada pelukan hujan. Ya, semua perkuliahan hari ini DILIBURKAN! Waaaaaw. Luar biasa bukan? Bagi sebagian orang mungkin ini adalah berita baik bagai pelangi di cuaca yang muram. Namun, bagi gw berita ini adalah sebuah penyia-nyiaan perjuangan gw melawan pelukan hujan dalam 3 jam kebelakang. Gw mau marah, tapi sama siapa? Sama si hujan? Hujan memang kejam hari ini tapi itu bukan salahnya. Ia turun dengan kejam pasti dengan maksud kebaikan tertentu, yang sampai saat tulisan ini dibuat belum gw pahami. Gw hanya bisa pasrah dan menerima semuanya dengan lapang dada. Hujan berhasil memeluk diri gw, jadwal gw, dan nasib gw hari ini, 17 Januari. Dia memeluk gw bukan dengan kehangatan dan manfaatnya, tapi dengan kedinginan dan kekejamannya. Hari ini gw tidak suka dengan hujan. Apakah hujan akan selalu sekejam ini hingga seterusnya? Gw percaya tidak. Hanya saja, hari ini, hujan tidak berada dalam daftar hal-hal favorit gw.

Itu, sebuah kisah pelukan hujan.

Categories: Private but readable | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: