Republik Busway I

Sebagai seorang warga Depok tak berkendaraan pribadi yang berkegiatan di Jakarta selama hampir 4 tahun terakhir, angkutan umum adalah sebuah sahabat yang jauh lebih penting daripada seorang kekasih. Perumpamaan ini muncul bukan karena saya selalu bergonta-ganti angkutan umum tapi tidak pernah berganti (bahkan punya) kekasih, tetapi karena memang angkutan umum itu adalah pusat pembicaraan dalam kehidupan saya sehari-hari. Bayangkan saja, setiap mau keluar rumah yang dipikirkan bukan mau ketemu siapa atau sama siapa berangkatnya, tapi naik apa berangkatnya. Dari situ akan diturunkan variable-variabel lain seperti lewat mana biar lebih sedikit ganti kendaraannya, berapa banyak uang yang harus disiapkan, harus berangkat jam berapa agar tidak terlambat, bawa apa agar tidak bosan di jalan, barang apa yang harus dibawa dengan lengkap agar tidak perlu bolak-balik ganti kendaraan, harus bawa laptop atau tidak mengingat ramainya angkutan yang akan dinaiki, perlu bawa jaket tidak kalau harus naik kendaraan terbuka (missal: ojek), ada yang bisa ditebengin enggak biar hemat ongkos, bawa pecahan uang berapa biar supirnya enggak punya kesempatan korupsi dan hal-hal perintilan lain yang rasanya enggak perlu diceritakan di sini. Kedengarannya lebay ya? Kalau kamu sudah terbiasa kemana-mana naik kendaraan umum, kamu juga akan begitu. Terlalu banyak faktor tak terduga di jalan yang bisa merenggut kesempurnaan rencana satu hari kita. Makanya kita perlu mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, seadil-adilnya, sehormat-hormatnya #salahfokus #bumimanusia.

Diantara banyaknya kendaraan umum yang tersedia di jalanan ibukota Jakarta, andalan saya adalah bus Trans Jakarta. Orang-orang sih lebih mengenal bus itu dengan nama Busway. Aneh banget! Yah, padahal kan itu nama jalanannya, bukan busnya. Tapi ya sudahlah, bukan itu juga yang ingin diceritakan dalam tulisan ini. Nah, kamu pernah enggak naik Busway (tuh kan ikutan salah nyebut)? Seperti kendaraan umum kebanyakan, di dalam Busway (Bus Trans Jakarta, apapun lah) -pun terdapat berbagai jenis manusia yang memanfaatkannya. Iya, saya cuma akan membahas manusia, bukan makhluk-makhluk lainnya. That will be another weird story to tell….

Kalau kamu memperhatikan, manusia-manusia (eh gimana kalau diganti jadi orang-orang? Kayaknya enggak nyante gimana gitu) di dalam Busway (udah enggak usah protes) itu dapat menggambarkan jenis-jenis orang yang hidup di dunia ini loh.  Berdasarkan studi empiris yang saya lakukan, jenis orang-orang itu dapat dikelompokan ke dalam 3 kategori, yaitu berdasarkan rutinitas, agresifitas dan posisi tubuh. Yu kita bahas satu per satu.

1. Berdasarkan Rutinitas

a. The commuters

Mereka (termasuk saya sih) adalah orang-orang yang sehari-harinya berkegiatan di sekitaran Jakarta, jadi sudah biasa naik Busway. Biasanya mereka adalah para pekerja dan pelajar yang tak jarang merupakan penduduk non-Jakarta. Mereka naik Busway dengan harapan bisa terhindar dari macet, panas dan ‘liarnya’ beberapa penumpang dan supir metromini/kopaja/ bus kota lainnya . Namun, harapan itu hanya sekedar harapan palsu belaka. Saking seringnya mereka terpapar oleh kekecewaan yang dibawa oleh Busway, tak sedikit dari mereka yang telah kehilangan idealisme dirinya. Yang tadinya berprinsip ‘utamakan orang banyak dari diri sendiri’ bisa berubah jadi ‘yang penting gue dapat duduk, capek tau!’. Tak sedikit pula yang tadinya pengikut setia bebek dalam hal antri jadi kehilangan kepercayaan kepada si bebek sehingga lebih memilih cara ikan salmon dalam musim kawin yang sedang berenang menaiki air terjun untuk naik ke dalam (naik sih harusnya ke atas ya, ko ya ke dalam?) Busway: berjubelan tak kenal kawan atau lawan, yang penting naik!

Orang-orang ini menggambarkan orang-orang yang sudah lelah, sudah muak dengan sebuah keburukan. Keburukan itu hadir setiap hari sehingga melebur menjadi sebuah bagian hidup yang pada akhirnya membentuk persepsi mereka tentang sebuah kenormalan. Kenormalan yang tak perlu ditanggapi secara berlebihan. Misalnya sudah biasa kalau di dalam Busway orang duduk sambil pura-pura tidur biar tempat duduknya enggak diambil paksa oleh petugas untuk diberikan kepada orang lain yang terlihat lebih membutuhkan. Ini kan contoh dari sebuah kebohongan, kepura-puraan yang menjadi sebuah kebiasaan. Sebenarnya salah, tapi kalau tidak begitu masa setiap hari harus berdiri di Busway? Bisa tepar nanti. Idealisme mereka (mungkin sekali juga saya) tergerus oleh keburukan sistem yang memaksa mereka untuk juga jadi buruk. Kalau mereka tidak beradaptasi, mereka bisa tidak selamat. Bukankah itu teori dasar sebuah evolusi: beradaptasi? Apakah mereka salah? Ya enggak bisa serta-merta disalahakan juga. Mereka punya kebutuhan dasar untuk bertahan, sama kayak kita semua. Banyak orang yang mencap mereka tak punya hati atau munafik, tapi melakukan hal serupa saat mereka ada di posisi yang sama. Jadi, kesimpulannya adalah berikanlah kesempatan pada para commuters untuk duduk di dalam Busway, hahaha #salahfokus.

b. Occasional based pasangers

Orang-orang yang termasuk dalam kategori ini adalah mereka yang jarang naik Busway. Palingan hanya naik kalau ada keperluan saja, bukan karena kebutuhan harian. Biasanya mereka tidak hapal jalur koridor sehingga sering tanya-tanya sama petugas dan penumpang lainnya. Tak jarang ketidaktahuan mereka membuat heboh orang-orang satu Busway karena mereka salah turun halte, ga tahan kesesakaan di Busway sehingga marah-marah ga jelas dan ngajak ngobrol semua penumpang terdekat agar bisa membunuh waktu di Busway. Satu hal yang saya enggak mengerti dari mereka adalah kenapa mereka lebih senang bertanya daripada membaca? Kalau mereka bertanya harus turun di halte mana kalau mau ke suatu tempat sih saya masih bisa mengerti. Tapi, kalau mereka bertanya apakah bus dalam koridor tertentu melewati halte tertentu, saya sangat merasa aneh. Kan sudah ada itu penjelasannya yang digambar secara apik dan mahal di peta jalur Busway yang terpasang di setiap atas pintu halte. Kenapa juga mereka ga cari informasi dulu di web/ twitter Trans Jakarta tentang koridor-koridor yang tersedia? Kenapa harus langsung bertanya? Kenapa enggak berusaha mencari tahu sendiri dahulu? Kenapa juga saya harus mempermasalahkan tabiat mereka? KENAPA?

Buat saya tabiat ini menggambarkan sifat orang-orang itu (kalau tidak boleh mengeneralisir ke ‘orang Indonesia’) yang malas baca, enggak mau repot dan sangat interaktif. Malas baca, yaelah masih perlu dibahas nih? Segala bentuk informasi yang tersedia untuk kita akses kebanyakan dalam bentuk teks, baik itu tulisan maupun gejala yang sama-sama perlu kita baca. Kalau kita malas baca, bagaimana kita bisa mengakses informasi tersebut? Minta dibacain orang dengan cara bertanya? Kalau kita lagi sendirian mau minta dibacain sama siapa? Kalau kita dikasih nikmat untuk bisa membaca, kenapa harus malas membaca? Dalam hidup ini saya sering banget bertemu dengan orang-orang yang hobinya learn the hard way. Mereka lebih senang melakukan kesalahan secara langsung untuk bisa belajar daripada membaca petunjuk yang bisa menyelamatkan mereka dari kesalahan itu. Macam orang yang enggak pernah dengar (atau baca) pepatah lebih baik mencegah daripada mengobati saja. Sudah malas baca, enggak repot lagi. Padahal kan apa repotnya sih tinggal baca? Mungkin mereka merasa repot kalau harus memproses informasi yang mereka dapat dari hasil membaca di dalam otak mereka kali ya. Takut otaknya enggak kuat gitu. Atau, mereka hanya suka berbicara. Ingat kan kalau ada multiple intelligences? Siapa tahu para penanya ini memang termasuk orang verbal, bukan visual. Yah tapi tetap saja lebih mandiri kalau kita bisa mencoba membantu diri kita sendiri tanpa bantuan orang lain bukan?

Selanjutnya mari kita membahas tentang jenis orang di Busway berdasarkan ketegori agresifitas, tapi bukan sekarang. Saat ini waktu sudah menunjukan hampir pukul 10 malam, sudah tak kuat mata saya. Pembahasan selanjutnya akan ditulis dalam postingan yang lain ya. Untuk saat ini dapat disimpulkan bahwa Busway memiliki kekuatan untuk mengubah tabiat seseorang dan melatihnya menjadi seorang pembicara (paling tidak penanya) yang baik. Hal ini dapat menjadi positif maupun negatif tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Kalau kamu enggak percaya dengan apa yang saya ceritakan di atas, jangan langsung menuduh saya pembohong. Coba buktikan sendiri dengan paling tidak naik Busway setiap pagi di hari kerja selama 1 bulan penuh. Kalau kamu sudah mencobanya, silahkan bantah apa yang mau kamu bantah, dengan bukti tentunya.

All in all, tulisan gue (kenapa enggak saya lagi?) aneh ya? Udah lama BANGET enggak ng-blog. Maklum, waktu gue terpatrikan pada skripsi dan kerjaan di dunia media sosial. Sama-sama nulis juga sih, tapi agak beda metodenya. Kapan-kapan gue bahas deh. See you!

Hit me at Twitter @Firziebcr

Categories: Private but readable | Tags: , , , | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Republik Busway I

  1. Anyway I love your background, it’s a woody board, i try to do the same thing but i have no idea how to deal with blogger, haha. You words are fun, you make the readers up actually😀.
    Well, the commuters (so do i), i do agree with you, we lost our idealism sometimes, but with regard to those issues, i though it wasn’t kinda adaptation IMO, adapt means that you’re matching yourself or take an appropriate conduct or attitude to deal with your surroundings, not trying to do the same thing. Well, its kinda SURVIVAL for us, isn’t? so means that how you’re survive with what is going to be ideal, which one is the right one. It’s hard brother, very hard, i ever take an survival class in the jungle when i was senior high, i though it’s kinda illustration to be best described your Commuters article are😀 ( correct me if i’m wrong)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: