Pengertian akan Keberagaman: Kampus vs Kantor

Salah satu hal yang cukup mengejutkan dalam transformasi dunia kuliah ke dunia kerja adalah penyadaran bahwa dunia itu jauh lebih luas dan beragam dari apa yang selama ini saya kira. Bukan berarti selama kuliah saya memiliki sudut pandang yang sempit, sama sekali bukan. Hanya saja jenis dunia saya berkuliah dengan dunia tempat saya bekerja merupakan 2 dunia yang cukup berbeda dalam hal keberagaman.

Agustus 2013, saya resmi menyandang gelar sarjana pendidikan. Pada saat itu saya bingung mau kemana saya selanjutnya? Bukan karena saya tak yakin dengan kemampuan diri saya untuk bisa bertahan di dunia kerja, tapi lebih kepada bidang apa yang ingin saya ambil sebagai sebuah pekerjaan. Normalnya, logikanya, biasanya, kata orang sih seharusnya, sarjana pendidikan bekerja sebagai seorang guru. Kebas sudah telinga ini mendengar doktrin itu selama 4 tahun. Memang sih kampus tempat saya berkuliah, fakultas pendidikan USBI, memang bertujuan untuk menciptakan generasi guru baru yang mampu mengajar dengan kemampuan-kemampuan abad-21. Walaupun dalam 1,5 tahun terakhir saya menyelesaikan studi di sana visi tersebut mulai berubah menjadi “menciptakan pendidik”(yang kami percaya bersama bukan hanya guru, tetapi siapa saja yang memiliki semangat berbagi), tetap saja sebagai lulusan pertama kami memiliki tanggung jawab untuk menjadi seorang guru. Tanggung jawab yang diemban demi membuktikan kepada pemerintah bahwa USBI memang mampu mewujudkan visinya, dan tanggung jawab moral sebagai seorang sarjana pendidikan yang memiliki kemampuan dan pengetahuan mengajar mumpuni di kala kualitas pendidikan bangsa tengah diperdebatkan. Tanggung jawab yang pada saat ini, 4 bulan kemudian, saya nafikan.

Sebelum saya berlanjut nyerocos tentang status sarjana pendidikan yang saya miliki namun faktanya saat ini saya malah bekerja di bank bukannya mengajar di sekolah (ceritanya panjang, saya ceritakan lain kali), mari kita kembali ke soal perbedaan keberagaman kuliah dan kerja.

Dengan visi mulia untuk menciptakan generasi guru baru yang berkualitas, Fak. Pend. USBI (dulu SSE) tidak tanggung-tanggung dalam memilih orang-orang yang akan menjadi tumpuan harapan mereka. Dengan iming-iming beasiswa, kampus canggih, pengajar ahli dan kesempatan masa depan cerah, lebih dari 1200 anak muda mendaftar untuk menjadi mahasiswa/i pertama SSE di tahun 2009. Setelah melewati berbagai tes, bahkan sampai 3 hari karantina, terpilihlah 89 anak muda yang diterawang dapat memenuhi visi tersebut. 89 orang ini adalah, tentu saja, anak-anak terpilih dari seluruh Indonesia. Semuanya memiliki kecerdasan di atas rata-rata, karakter yang kuat, kepribadian yang unik dan sebagian besar memiliki mimpi untuk dapat mengubah kesejahteraan keluarga mereka. Ya, sebagian besar dari anak-anak ini berasal dari keluarga pra-sejahtera, termasuk saya.

Seiring berjalannya waktu, SSE membuktikan bahwa mereka memang serius dengan visinya. 89 anak muda ini dipersenjatai dengan berbagai kemampuan yang menyiapkan mereka untuk bersaing di abad-21 yang super global dan canggih. Dari segi akademik, kami dipapari oleh berbagai pengetahuan global terkini, mulai dari teori-teori pendidikan, kemampuan berbahasa Inggris dan IT, trik-trik mendidik, dan sebagainya. Keterampilan menyelesaikan masalah, berpikir kritis, manajemen organisasi, kepemimpinan, public speaking, dan kesempatan bekerja sama dengan institusi-institusi internasionalpun tak lupa diberikan. Berbagai kesempatan konferensi, pelatihan, magang, mengikuti kegiatan sosial dan berorganisasi merupakan hal-hal yang mudah ditemui. Semua hal dilakukan untuk mempersiapkan kami menjadi pejuang-pejuang yang mampu bertahan di pertarungan paling canggih di abad-21.

Akibatnya?

Kampus merupakan sebuah tempat belajar yang sangat ideal. Kompetisi sehat di mana-mana, namun persahabatan tetap nampak di setiap sudut kelas. Semua orang paham bahasa Inggris, semua orang sedikit banyak paham cara berorganisasi, semua orang kelihatan pintar dengan karakternya masing-masing. Semua orang memiliki 1 visi yang sama, yang dilihat dari berbagai sudut pandang berbeda. Semua orang beragam dan mampu menerima keberagaman itu. Pada akhirnya kami menjadi sekelompok orang berkarakter beragam namun berada dalam segaris kualitas yang relatif sama. Bermodalkan semua hal ini, saya pribadi percaya bahwa kami mampu berjuang di dunia kerja. Sayangnya, yah tahulah apa yang biasanya terjadi setelah ada kata ‘sayangnya’…

Sebuah perusahaan tersusun dari berbagai komponen kerja yang berbeda, tentu membutuhkan orang-orang dengan kemampuan yang berbeda. Kemampuan yang berbeda seringkali didapat dari latar belakang dan pola pikir yang berbeda pula. Jadilah sebuah perusahaan terdiri dari ratusan orang dengan ratusan macam kemampuan dan ratusan cara berpikir yang berbeda. Contohnya, tak semua orang bisa berbahasa Inggris. Tak semua orang memiliki visi yang sama. Tak semua orang memiliki hati untuk pendidikan (wajar sih, siapa suruh saya masuk bank?). Tak semua orang dapat memahami dan menghargai perbedaan. Tak semua orang mengerti akan kejamnya sebuah ejekan. Tak semua memiliki kepekaan hati untuk mau mengerti. Tak semua orang tahu dan mau mengerti bagaimana rasanya hidup dengan penuh keterbatasan materi. Tak semua orang diberkahi Tuhan dengan kemauan untuk terus belajar. Semua begitu beragam, begitu berbeda. Ah, saya jadi meracau!

Intinya, kami dipersiapkan untuk dapat bersaing dalam lingkungan yang serba canggih. Bukan canggih dalam teknologi, tetapi lebih canggih dalam pola pikir, keberadaban, kemampuan menerima perbedaan dan pengetahuan. Namun sayangnya, tak semua dari kami pergi ke lingkungan yang seperti itu. Saya sendiri masih harus berkutat dengan isu-isu yang seharusnya sudah selesai lewat perjuangan Mandela, Martin Luther King dan Kartini setiap harinya. Bagaimana bisa menjadi canggih di saat lingkungan kita masih sederhana? Saya tidak mengatakan bahwa kampus saya lebih canggih dari tempat saya berada sekarang. Bukan sama sekali. Hanya saja dunia kampus dulu begitu homogen dalam hal saling pengertian. Kini, semuanya begitu beragam. Tak semua orang berada dalam frekuensi yang sama dengan kita. Seringkali saya, sebagai anak baru yang harus menyesuaikan frekuensi dengan mereka yang sudah lebih dulu datang di sana.

Apakah ini merupakan sebuah keluhan dari saya yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan baru yang terlalu beragam? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Yang jelas saya rindu berada di antara orang-orang yang mau saling mengerti satu sama lain.

Categories: Private but readable | Tags: , , , , , , , | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Pengertian akan Keberagaman: Kampus vs Kantor

  1. Hey Firzie, you should keep your blog alive. Write more, share more, inspire more.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: